Tampilkan postingan dengan label Pendidikan Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pendidikan Islam. Tampilkan semua postingan

Kamis, 23 Juli 2015

dakwatuna.com – Pasangan suami istri yang dikaruniai buah hati, lantas mengaku-ngaku telah menjadi orang tua sesungguhnya tengah terjerembab ke dalam satu dari sekian banyak kesalahan yang sering diperbuat orang kebanyakan. Ibarat seorang bocah ingusan yang hanya karena telah memegang bola lantas mengaku-ngaku sebagai pesepakbola kenamaan, padahal bukan bola yang menjadikan ia pesepakbola, keberadaan ayah dan ibu serta anak sekalipun tak lantas menjadikannya sebagai keluarga. Sebuah gelar dan posisi selalu menghadirkan konsekuensi, tanggung jawab menyertai, proses harus dilewati, mesti siap dievaluasi, bahkan hingga setelah mati di akhirat nanti. Orang tua ialah posisi yang mulia, gelar yang tak sembarang orang memakainya, orang pilihan yang diamanahi titipan, anak yang harus dididik dan dibesarkan, tak sekadar diberi makan atau jajan, tetapi mesti dicurahi cinta dan dibaluti sayang. Allah mengamanahkan anak sebagai titipan, jangan sampai dititipkan lagi, karena tak mungkin Allah salah menitip, jangan khianati amanah meski susah payah. Banyak pribadi yang kesepian, mereka merasa sendiri dalam kebersamaan, ada atau tiadanya keluarga tak bisa dibedakan, jasad dan pikiran telah berada di tempat yang berlainan, dikerubuti kebingungan dan diselimuti kehampaan. Dokter yang malpractice hanya dapat menghilangkan nyawa pasien, arsitek yang malpractice hanya dapat meruntuhkan bangunan yang didesain, namun orang tua yang malpractice akan membuat anak-anak dan beberapa generasi manusia setelahnya hidup menjadi alien, tak tahu bagaimana hidup dan merasa selayaknya manusia, beberapa bagian nurani mungkin mati hingga mereka tak tahu cara memuliakan pribadi, beberapa bagian akal pikiran mungkin teracuni hingga mereka berbuat banyak kerusakan di muka bumi. Mereka yang hidup terlunta-lunta dan menginginkan cinta namun belum bisa meraihnya. Pribadi-pribadi yang kelaparan cinta, ayah yang mengharap cinta istri dan anaknya, ibu yang mengharap cinta suami dan anaknya, anak yang mengharap cinta ayah ibunya. Cinta, sepanjang sejarah manusia senantiasa berada di peringkat pertama sebagai rasa yang paling ingin dimiliki manusia yang dengan memilikinya manusia berharap bahagia. Banyak pribadi yang kaya harta namun miskin kata-kata, mengaku-ngaku orang tua namun nyata-nyata hanya berfungsi layaknya ATM bersama, didekati saat ada yang diingini, dijauhi ketika tiada lagi mampu memberi. Mereka miskin kreativitas, tak mampu memperlakukan keluarga dengan pantas, tak berkomunikasi sering dijadikan jalan pintas, cari aman meski hubungan menjadi tak berkualitas. Mengaku-ngaku orang tua akan tetapi buta akan cinta, anak-anak dibiarkan tumbuh dan berkembang tanpa rasa sayang. Wahai ayah wahai ibu, tak cukup hanya didoakan, anak-anak butuh kecupan penuh kehangatan, butuh dikayakan dengan penghargaan, bukan direndahkan melalui meja penghakiman. Anak-anak membutuhkan rasa aman dan nyaman, tak butuh ledekan atau gertakan. Lebaran kali ini mari kita kembali renungi, hak dan kewajiban apa saja yang belum dipenuhi. Tali cinta dan tali kasih yang perlu diperbaiki, jangan sampai dirusak atau diputus lagi. Tak perlu alasan untuk mencintai, tak perlu cari-cari alasan sehingga ingin membenarkan benci. Tak mencari-cari jalan untuk lari, tetapi mencari arah yang sama untuk dapat bertemu kembali. Orang tua adalah pendidik, pengapresiasi, pencinta, dan pemberi warna. Orang yang pertama kali menyatakan dukungan dan orang terakhir yang menaruh keraguan. Dan keluarga adalah tentang membicarakan hidup secara terbuka, pembicaraan yang hanya menyediakan tempat bagi kebaikan saja, tak ada cerca mewujud menjadi kata, tak ada hampa dalam tiap sorot mata, setiap anggota keluarga antusias demi hubungan yang berkualitas. Hidup berkeluarga bukan tentang berlelah-lelah mencari siapa yang salah, hidup berkeluarga adalah tentang menawarkan diri untuk menjadi bagian dari solusi, menggunakan segala daya untuk bahagia bersama. Ramadhan yang telah dijalani, menjadi sekolah yang amat berharga bagi tiap pribadi. Memaafkan bukan lagi pilihan, kebersamaan bukan lagi keterpaksaan, semua hadir karena suatu keinsafan, berharap ridha dan ampunan dari Allah Yang Maha Rahman, Yang Maha memberikan bahagia kepada manusia yang dikehendakinya. Berkeluarga membawa konsekuensi dunia akhirat, tiada yang dituju selain jalan selamat, yang mesti diawali lurusnya niat, menjadi keluarga itu lillah, tak masalah meski sampai berlelah-lelah. Dinamika kehidupan sering membuat tiap pribadi hilang kendali, Idul Fitri adalah saat yang tepat untuk kembali menetapkan visi, agar perjalanan hidup berkeluarga tak hilang arah lagi. Visi hidup keluarga Muslim ialah “Menjaga Diri dan Keluarga dari Api Neraka” (QS. At-Tahrim [66] ayat 6). Misi hidupnya adalah “Beribadah Kepada Allah Swt.” (Adz-Dzaariyaat ayat 56). Pedoman hidupnya adalah Alquran (Al-Baqarah ayat 2) dan as-Sunnah (Al-Ahzab ayat 21). Semboyannya “Lillahi Ta’ala”. Prinsipnya “Asal Allah Suka, Semua Suka-suka Allah”, karena Allah Swt. sebagai pencipta pasti memberi yang terbaik bagi hamba-Nya. Tidak ada kata “tidak peduli” dalam keluarga yang bervisi Islami. Masing-masing berbagi peran untuk saling menyelamatkan, ayah yang menunjukkan arah, ibu yang turut memandu, anak yang ikut bergerak. Tidak ada lagi kata “terpaksa”, dipaksa tidak jadi masalah, karena beberapa hal ada yang berhukum fardhu ‘ain dan fardhu kifayah, mendidik memang seni yang unik, ketegasan dan aturan memang diperlukan, dan standar yang terbaik ialah yang telah Rasulullah Saw. contohkan, kalaupun harus memukul ada standar yang harus ditaati dan tentu bukan untuk tujuan menyakiti. Jika kita mencontoh Rasulullah Saw., tak pernah kita mendapati beliau mendidik dengan caci maki atau berbicara dengan cara yang menyakiti. Rasulullah saw. selalu menghadirkan bahasa pantas dan berkualitas, meneduhkan dan mencerahkan. Orang tua jangan coba-coba menetapkan standar sendiri tanpa berpegang pada tuntunan Ilahi, kacau nantinya, rapuh pondasinya. Bawalah selalu Allah dan Rasulullah, “Nak, kata Allah…” atau “Nak, kata Rasulullah…”. Anak dan Keluarga Anak ialah pendukung utama orang tua agar bisa masuk surga, sekaligus musuh utama jika dia menjadi durhaka dan menjerumuskan orang tua ke dalam neraka. Anak tak bisa memilih untuk lahir di keluarga mana dan orang tua yang seperti apa, tetapi dengan berusaha tiap anak memiliki peluang yang sama untuk menjadi insan yang berbahagia. Ayah ibu adalah orang yang paling berhak menerima baktimu, perlakuan terbaikmu, kata-kata terindahmu, dan upaya mati-matianmu. Paling berhak atas pemaafanmu atas sedalam apapun kecewa dan rasa pedih dalam jiwa. Semua tidak mudah, tapi mari ikhlaslah. Bagi tubuh adalah nyawa yang memberi kehidupan. Jika nyawa tidak ada lagi, matilah tubuh. Bagi pribadi, ikhlaslah yang menjadi nyawanya. Pribadi yang tidak memiliki keikhlasan adalah pribadi yang mati. Meskipun dia masih bernyawa, arti hidupnya tidak ada. (Buya Hamka) Anak berbakti pastilah lebih peduli pada perbaikan keluarga dibanding mengorek-ngorek borok yang ada. Lebih senang menebar wangi dibanding menghujat dengan penuh rasa benci. Pertemuan dan kelahiran merupakan takdir yang telah Allah Swt. tetapkan, hadapi dengan penuh kesyukuran dan keikhlasan. Seraya terus berusaha dan berdoa, moga-moga Allah Swt. melimpahkan rahmat-Nya ridha-Nya serta ampunan-Nya. Menjadi berbakti adalah janji, karena cinta tak pernah dapat diterima tanpa adanya bukti. Masuk surga sekeluarga adalah cita yang sejati, usaha tanpa kenal menyerah ialah satu-satunya jalan yang harus dilewati, ikhlas dalam menjalaninya adalah harga yang tak bisa ditawar lagi. Di Idul fitri, mari jatuh cinta lagi, berkali-kali. Mari kita kekalkan cinta ini demi ridha Ilahi. Wallahu a’lam. (herlambang/dakwatuna) Selengkapnya...

Jumat, 11 Februari 2011

Goresan Iman

Suatu ketika datanglah para shahabat menemui Nabi shallallahu alaihi wasallam, sebagaimana yang diceritakan oleh Abu Hurairah radhiallahu anhu. Mereka mengeluhkan tentang was-wasah (bisikan) yang ada dalam hati mereka yang sangat tidak nyaman; “Di dalam hati kami ada hal-hal yang terlalu berat untuk diucapkan.”

Nabi menegaskan, “Kalian telah menjumpainya?" Mereka berkata, “Ya.”

Nabi bersabda, “Itu adalah kemurnian iman.” (HR. Muslim no. 188)

Hal yang serupa disampaikan oleh Abdullah bin Mas’ud radhiallahu anhu; bahwa Nabi pernah ditanya tentang waswasah (bisikan tidak baik dalam hati). Nabi menjawab, “Itu adalah kemurnian iman.”

Untuk bisa memahami jawaban Nabi di atas, mari kita dengarkan penjelasan Imam an-Nawawi,
“Yaitu: rasa berat hati kalian terhadap bisikan dalam hati adalah merupakan kemurnian iman. Karena rasa berat hati dan takut terhadap bisikan tersebut juga rasa takut untuk mengucapkannya apalagi meyakininya, adalah merupakan rasa yang hadir dari orang yang telah sempurna imannya dan telah hilang segala bentuk keraguan.” (al-Minhaj, 2/154, MS)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah menambahi penjelasan, “Yaitu: terjadinya waswasah (bisikan) bersama dengan ketidaksukaan yang luar biasa terhadapnya dan usaha mengusirnya dari hati adalah merupakan kermunian iman. Seperti seorang mujahid yang berhadapan dengan musuh, dia berusaha untuk melawannya hingga berhasil mengalahkannya. Ini merupakan jihad paling utama. Murninya iman seperti murninya susu. Iman menjadi murni ketika membenci bisikan-bisikan syetan dan menolaknya.” (Majmu’ al-Fatawa 7/282, MS)

Lebih jelas lagi Ibnu Taimiyyah menyampaikan, “Orang munafik dan kafir tidak menjumpai kebencian dengan keberadaan waswasah tersebut. Jika kekafiran itu kecil; yaitu berpaling dari ajaran Rasul dan tidak mau mengimaninya walaupun tidak mendustakannya, yang seperti ini keadaannya bisa jadi syetan tidak meniupkan waswasah baginya. Hal itu dikarenakan waswasah akan menghilangkan iman. Jika tidak ada iman, maka tidak perlu (syetan) mendatangkan waswasah. Jika kafirnya berat; yaitu mendustakan ajaran, yang seperti ini keadaannya maka kekafiran itu lebih berat dari waswasah. Dia sudah tidak mempunyai iman sama sekali yang digunakan untuk melawan was-wasah.” (az-Zuhdu wal Wara’ wal ‘Ibadah h. 195, MS)

Inilah penjelasan dari hadits di atas. Di mana hati orang beriman mempunyai kepekaan dan perlawanan. Kepekaan dari berbagai bisikan syetan dan ajakannya. Serta perlawanan terhadap bisikan dan ajakan menyesatkan tersebut.

Setiap orang beriman pasti merasakan hal tersebut. Bahkan itu menjadi tanda bahwa dia masih beriman. Jika hati tidak mempunyai kekuatan menolak bisikan dan ajakan keburukan, maka itu tanda hilangnya iman.

Hal ini sejalan dengan hadits Nabi yang sangat kita kenal tentang nahi mungkar. Jika tidak ada yang bisa dilakukan oleh seorang mukmin untuk menolak kemungkaran tersebut, tidak dengan tangan dan tidak pula dengan lisannya. Maka yang pasti masih tersisa adalah ketidaknyamanan menyaksikan kemungkaran itu masih menggumpal dalam hati orang beriman. Inilah yang oleh Nabi disebut sebagai iman terlemah dan tidak ada lagi iman di bawah itu. Artinya, jika berbagai kemungkaran dan dosa terpampang di depan mata, tetapi hati tidak terusik, maka sungguh sebuah kehilangan terbesar dengan sirnanya iman dari dalam hati. Ini merupakan alat ukur sederhana untuk mengukur setebal apa iman kita.

Jadi, hati ini akan merespon semua kejadian di luar sana. Jika ada kebaikan sedang mengibarkan bendera kemenangannya, hati merespon dengan bahagia. Jika ada kesalahan, carut marut dosa, mendung tebal kesedihan menutupi hampir seluruh ruang hati. Begitulah suasana hati orang beriman.

Adapun jika sebaliknya yang terjadi, maka innalillahi wa inna ilahi raji’un atas matinya keimanan.

Kalau diizinkan, penulis mengungkapkan dengan istilah: goresan iman. Iman yang menggoreskan rasa dan sangat bisa dirasakan goresannya. Atau iman yang terasa tergores-gores karena peristiwa di luar sana.

Penulis tidak mengklaim sama sekali tentang iman yang sempurna. Hanya penulis dan siapapun berharap dan berdoa agar diberikan iman yang sempurna.

Tulisan-tulisan ini merupakan respon jiwa, ungkapan hati terhadap berbagai peristiwa sepanjang Ramadhan 1431 H. Terlalu sayang dilewatkan tanpa pelajaran. Berharap bahwa ini merupakan bukti keimanan. Amin ya rabb...

Ar-raji ‘Afwa Rabbih
Abu Dihya
Selengkapnya...

Senin, 24 Januari 2011

Ayah! Shalat Subuh

dakwatuna.com - Suatu hari seorang anak sedang belajar di sekolahnya, dia baru kelas 3 SD. Di salah satu pelajaran, seorang guru menjelaskan tentang shalat subuh dan dia menyimaknya dengan seksama. Mulailah gurunya berbicara tentang keutamaan dan pentingnya shalat subuh dengan cara yang menggugah, tersentuhlah anak didiknya yang masih kecil itu. Terpengaruhlah seorang anak kecil tadi oleh perkataan gurunya sementara ini dia belum pernah shalat subuh sebelumnya dan juga keluarganya.



Ketika dia pulang ke rumah, berfikirlah dia bagaimana caranya supaya bisa bangun untuk shalat subuh besoknya. Dia tidak mendapatkan caranya selain tidak tidur semalaman sampai bisa melaksanakan shalat subuh. Dia melakukan caranya itu. Dan ketika mendengar azan, bergegaslah dia untuk menjalankan shalat subuh. Tetapi ada masalah bagi anak kecil ini untuk sampai ke masjid karena letaknya jauh dari rumahnya. Dia tidak bisa berangkat sendirian, maka menangislah dia dan duduk di depan pintu. Tetapi tiba-tiba dia mendengar suara sepatu seseorang dari arah jalan, dibukalah pintu dan keluarlah segera dari rumahnya. Nampaknya kakek ini menuju masjid. Anak kecil ini melihat sang kakek dan dia kenal. Kakek ini adalah kakek temannya, Ahmad. Anak kecil ini mengikuti Kakek Ahmad di belakangnya dengan rasa khawatir dan perlahan-lahan dalam berjalan, jangan sampai Si kakek merasa diikuti dan melaporkan dia ke keluarganya dan yang kemungkinan akan menghukumnya. Berjalanlah peristiwa ini seterusnya sampai pada suatu ketika Si kakek dipanggil oleh Allah Pemilik jiwa dan raganya. Si kakek wafat.

Anak kecil mendengar kabar ini, tertegunlah dia dan menangis sejadi-jadinya. Ayahnya sangat heran melihat kondisi seperti ini, kemudian bertanyalah kepada anaknya, “wahai anakku kenapa kamu menangis sampai seperti ini, dia itu bukan teman bermainmu dan bukan pula saudaramu yang hilang?” Anak kecil itu melihat kearah ayahnya dengan berlinang air mata penuh kesedihan, dan berkata kepada ayahnya, “seandainya yang meninggal itu ayah, bukan dia.” Bagai disambar petir dan tercenganglah seorang ayah kenapa anaknya yang berkata dengan ungkapan seperti itu, dan kenapa begitu cintanya anaknya kepada si kakek? Anak kecil menjawab dengan suara parau, “Aku tidak kehilangan dia karena hal-hal yang ayah sebutkan.” Bertambah heran ayahnya itu dan bertanya, “lalu karena apa?” Anak itu menjawab, “karena shalat ayah….karena shalat!” Kemudian anak itu menambahkan pembicaraannya, “Ayah, kenapa ayah tidak shalat subuh? Kenapa ayah tidak seperti si kakek dan seperti orang lain yang aku lihat?” Berkata ayahnya, “dimana kamu melihatnya?” Anak kecil itu menjawab, “di masjid.” Berkata lagi ayahnya, “bagaimana kisahnya?” Maka berceritalah anak kecil itu kepada ayahnya tentang apa yang dilakukan selama ini. Tersentuhlah seorang ayah oleh anaknya, lembutlah hati dan tubuhnya, jatuhlah air matanya, dipeluklah anaknya, dan semenjak peristiwa itu, ayah anak itu tidak pernah meninggalkan shalat satu waktupun dan semuanya dilakukan di masjid. (athfal lakin du’ah)
Selengkapnya...

Minggu, 23 Januari 2011

Peduli Sesama, Bukti Akhlak Mulia

Di tengah kondisi krisis ekonomi global yang kian hari menunjukkan dampaknya, yaitu makin melambungnya harga-harga bahan pokok, yang menyebabkan makin sulitnya kehidupan kelompok orang yang tidak beruntung. Dalam situasi seperti ini, sangat dibutuhkan sikap saling tolong menolong, membantu, meringankan dan memberi manfaat bagi orang lain yang membutuhkan.

Akhlak mulia ini ditegaskan Rasulullah saw. dalam sabdanya:

عن أبي موسى الأشعري ـ رضي الله عنه ـ عن النبي ـ صلى الله عليه وسلم ـ قال : ” المؤمن للمؤمن كالبنيان ، يشد بعضه بعضاً ، ثم شبك بين أصابعه ، وكان النبي ـ صلى الله عليه وسلم ـ جالساً ، إذ جاء رجل يسأل ، أو طالب حاجة أقبل علينا بوجهه ، فقال : اشفعوا تؤجروا ، ويقضي الله على لسان نبيه ما شاء ” . رواه البخاري ، ومسلم ، والنسائي

Dari Abu Musa Al Asy’ariy ra dari Nabi Muhammad saw bersabda: “Orang mukmin itu bagi mukmin lainnya seperti bangunan, sebagiannya menguatkan sebagian yang lain. Kemudian Nabi Muhammad menggabungkan jari-jari tangannya. Ketika itu Nabi Muhammad duduk, tiba-tiba datang seorang lelaki yang meminta bantuan. Nabi hadapkan wajahnya kepada kami dan bersabda: Tolonglah! maka kamu mendapatkan pahala, dan Allah putuskan lewat lesan Nabi-Nya apa yang dikehendaki.” (Imam Bukhari, Muslim, dan An Nasa’i).

Penjelasan Hadits:

Abu Musa, bernama asli Abdullah bin Qais.

المؤمن للمؤمن Sebagian mukmin atas sebagian mukmin lainnya, كالبنيان adalah seperti bangunan. يشد بعضه بعضاً Sisi kesamaannya dengan bangunan adalah pada sikap saling menopang. ثم شبك بين أصابعه Inilah penjelasan tentang kemiripan situasi kaum mukminin yang saling menguatkan.

Dari penjelasan ini dapat disimpulkan bahwa siapapun yang ingin membuat penjelasan lebih detail dalam berbicara dapat diperagakan dengan gerakan agar lebih berkesan dalam hati.

وكان النبي ـ صلى الله عليه وسلم ـ جالساً ، إذ جاء رجل يسأل ، أو طالب حاجة Ketika itu Nabi Muhammad duduk, tiba-tiba datang seorang lelaki yang meminta bantuan.

Penggabungan kata thalib dengan haajah, dalam riwayat lain: kata thalib dibaca tanwin dan hajatan dibaca nashab (fathahatain).

أقبل علينا بوجهه Rasulullah saw. menghadapkan wajah mulianya kepada kami, lalu bersabda: اشفعوا tolonglah keperluan orang yang meminta bantuan ini, dengan kebaikan, maka تؤجروا kalian akan mendapatkan balasan. Firman Allah:

“Barangsiapa yang memberikan syafa’at yang baik, niscaya ia akan memperoleh bahagian (pahala) dari padanya. dan barangsiapa memberi syafa’at yang buruk, niscaya ia akan memikul bahagian (dosa) dari padanya. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” An Nisa’:85

At Thabraniy meriwayatkan dengan sanad shahih dari Mujahid; berkata: ayat di atas berbicara tentang tolong menolong sesama manusia. Dan kesimpulan maknanya adalah: bahwa orang yang memberikan pertolongan kepada orang lain, maka ia mendapatkan bagian kebaikan, dan barang siapa tolong menolong dalam kebatilan maka ia mendapatkan bagian dosa.

Syafaat hasanah yang disebutkan dalam ayat di atas adalah pertolongan dalam kebaikan, melindungi hak sesama muslim, menghindarkan dari keburukan atau mendapatkan kebaikan, mencari ridha Allah, tidak ada risywah atau suap. Pada masalah yang mubah atau boleh atau tidak terlarang, tidak untuk menggagalkan salah satu had atau hukum pidana yang telah Allah tetapkan, tidak pula untuk menghilangkan hak orang lain.

Iyadh berkata: “Tidak ada pengecualian dari ruang pertolongan yang dianjurkan kecuali dalam masalah had atau pidana yang telah Allah tetapkan. Maka dalam masalah yang tidak ada ketentuan had terutama bagi orang yang tidak sengaja, dan ia dikenal sebagai orang bersih, pertolongan sangat dianjurkan. Selanjutnya ia mengatakan: Adapun bagi orang yang terbiasa dengan tindakan destruktif, terkenal sebagai ahlul bathil maka tidak berlaku syafaat bagi mereka, agar dapat menjadi pencegah kemaksiatannya.”

Ungkapan Iyadh ini didukung oleh riwayat Al Bukhari dan Muslim dalam kitab shahihnya dari Aisyah ra.

” أن قريشاً أهمهم شأن المرأة المخزومية التي سرقت في عهد النبي ـ صلى الله عليه وسلم ـ فقالوا : من يكلم فيها رسول الله ـ صلى الله عليه وسلم ؟ فكلمه أسامة ،فقال رسول الله ـ صلى الله عليه وسلم -أتشفع في حد من حدود الله تعالى ؟ ثم قام فخطب ، ثم قال : إنما أهلك من كان قبلكم أنهم كانوا إذا سرق فيهم الشريف تركوه ، وإذا سرق فيهم الضعيف أقاموا عليه الحد ، وأيم الله لو أن فاطمة بنت محمد سرقت لقطعت يدها “

Bahwa suku Quraisy disibukkan oleh seorang wanita dari Bani Mahzum yang mencuri pada masa Rasulullah saw. lalu mereka mencari siapa yang bisa berbicara dengan Rasulullah saw. Maka Usamah menyampaikan hal ini kepada Rasulullah saw. Rasulullah saw bersabda: “Apakah kamu hendak memberi pertolongan dalam hukum pidana Allah? Kemudian Rasulullah berdiri dan berkhutbah:…Sesungguhnya hancurnya umat sebelum kalian adalah bahwa mereka itu jika ada orang mulia yang mencuri mereka biarkan, dan jika ada orang lemah yang mencuri mereka tegakkan hukum pidana. Demi Allah, jika Fatimah binti Muhammad mencuri maka akan aku potong tangannya.”

ويقضي الله على لسان نبيه ما شاء Dan Allah berlakukan lewat lesan Nabi-Nya apa yang dikehendaki, dalam meluluskan hajat atau tidak meluluskannya, adalah dengan takdir Allah.

Dari hadits ini dapat diambil pelajaran:

1. Keutamaan tolong menolong antara sesama mukmin, saling menguatkan satu dengan yang lain dengan pertolongan pada hal-hal yang berguna dan bermanfaat. Rasulullah saw telah bersabda: المؤمن للمؤمن كالبنيان

2. Anjuran kepada kebaikan dengan dikerjakan langsung, atau memfasilitasinya. Rasulullah saw menganjurkan syafaat.

3. Syafaat kepada pembesar untuk menghilangkan kesulitan dan membantu yang lemah. Sebab tidak semua orang dapat berkomunikasi dengannya, dan mampu mendesaknya, atau menjelaskan keinginannya, agar dapat menjadi pertimbangan pembesar. Rasulullah saw pernah ada orang yang meminta syafaat -padahal Rasulullah tidak pernah menolak seorangpun- dalam memenuhi hajatnya. Allahu A’lam.

Oleh: Tim dakwatuna.com
Sumber: dakwatuna.com
Selengkapnya...

Jumat, 14 Januari 2011

Tanggung Jawab Setiap Pemimpin Umat Islam

Apabila kita memperkatakan pemimpin umat Islam,terbayang oleh kita bahwa mereka terbagi kepada berbagai peringkat dan pemimpin di berbagai bidang dan jurusan. Pemimpin di kalangan umat Islam itu ada pemimpin-pemimpin besar dan ada juga yang kecil. Ada yang umum (negara, daerah, dll) ada yang khusus (pendidikan, ketentaraan, ekonomi, dll). Juga ada yang terbatas ketika pemimpin itu juga dipimpin.

Setelah kita mengetahui pemimpin dan kepemimpinan dalam Islam itu berperingkat-peringkat, maka di sini akan memperkatakan apa tanggung jawab setiap pemimpin itu?

Di sini tidak akan dibahas secara luas dan menyeluruh namun secara ringkas saja. Di peringkat manapun pemimpin itu memimpin maka ada dua kewajiban yang tidak dapat dihindari dan akan dipertanggungjawabkan karena mereka adalah pemimpin Islam. Agama Islam mewajibkan setiap pemimpin umat Islam bertanggung jawab yaitu agama dan akhlak orang yang di bawah pimpinannya.

Setiap pemimpin di akhirat kelak akan ditanya oleh ALLAH Ta’ala setiap orang di bawah pimpinannya, tidak terkecuali pemimpin besar atau kecil, umum atau khusus. Mereka tidak boleh memikirkan bidangnya saja. Dalam ajaran Islam, masalah agama terutama di sudut fardhu ain mesti diketahui, dihayati dan diamalkan oleh setiap mukallaf (muslim, baligh, berakal yang telah dapat dikenai hukum). Oleh sebab itu siapa saja yang menjadi pemimpin bertanggung jawab memastikan perkara agama dan akhlak untuk keselamatan bersama di dunia dan akhirat.

Tidak seperti halnya dalam bidang fardhu kifayah, seperti ketentaraan, ekonomi, pertanian dll. Sebagai contoh kalau ada satu golongan yang berkecimpung di bidang itu dan mencukupi keperluan umum, maka sudah memadai. Orang lain yang tidak ambil bagian di bidang itu terlepas dari dosa. Sedangkan mengetahui halal dan haram serta akhlak yang mulia, yatu memiliki sifat-sifat mahmudah, seperti adil, jujur, tawadhuk, pemurah, kasih sayang, sabar, redha, tawakal, tenggang rasa, lapang dada, pemaaf, meminta maaf, amanah diwajibkan bagi setiap orang, baik pemimpin maupun bukan.

Setiap pemimpin Islam itu tidak bisa dia berkata, “Saya pemimpin di bidang ketentaraan. Saya hanya bertanggung jawab dengan ketentaraan saja. Soal agama dan akhlak itu bukan tanggung jawab saya.” Pemimpin ekonomi pun berkata senada dan juga pemimpin-pemimpin yang lain. Begitulah setiap pemimpin berfikir demikian. Soal agama dan akhlak itu tanggung jawab ulama, ustadz, pendakwah, pemimpin dakwah. Itulah bidang khusus mereka, begitu dalam fikiran para pemimpin itu. ALLAH dan Rasul tidak menghendaki demikian. Islam memerintahkan setiap pemimpin umat Islam, baik dia memimpin negara, pemimpin ketentaraan, politik, ekonomi, dll, wajib bertanggung jawab kepada anak pimpinannya mengenai agama dan akhlak mereka.

Di akhir zaman inilah kelemahan umat Islam, dimana pemimpin hanya memimpin di bidangnya saja. Terhadap agama dan akhlak mereka meringan-ringankannya. Itulah rahasia mengapa setiap golongan itu, susah disatukan satu sama lain. Hati berjauhan meski tidak bertengkar karena tali pengikat di kalangan umat Islam adalah agama dan akhlak sudah diputuskan. Kalaupun ada tali, tapi sudah hampir putus. Maka dari itu banyak terjadi gejala yang negatif dalam golongan—golongan manusia. Hal ini berlaku karena mereka tidak diarahkan kepada agama dan akhlak mulia oleh pemimpin, jika ada progam keagamaan pun hanya sekali-sekali. Pemimpin hanya mengutamakan bidangnya saja seolah-olah agama dan akhlak adalah persoalan individu.

Padahal umat Islam menghendaki agama dan akhlak mesti sama walaupun berasal dari berbagai bidang, karena hal itu merupakan keperluan bersama. Kalau pemimpin memperhatikan akhlak dan agama maka akan lahir ahli-ahli yang berkemajuan, berdisiplin dan berakhlak mulia karena disuluh oleh ruh Islam. Sehingga visi mereka sejalan, syiar mereka bersama dan akhlak mulianya sama.

Umat Islam sudah berfikir bahawa agama hanya untuk guru-guru agama dan ustadz-ustadz. Apakah ada di dalam kalangan umat Islam berfikir bahwa dengan berdisiplin agama dan berakhalak mulia akan merugikan umat Islam dan manusia? Apakah dengan berakhak mulia dan berdisiplin dalam agama akan menciptakan kemunduran?

Sebenarnya kepatuhan dalam agama serta akhlak mulia itulah yang menjadikan umat Islam berdisiplin. Akan memperindah dan memperbaiki setiap profesi dalam bidang-bidang kemajuan, sehingga dapat meningkatkan kehormatan umat Islam, karena akhlak adalah universal, bahkan orang bukan Islam akan senang terhadap Islam. Dan yang terpenting adalah ALLAH dan RasulNya akan suka dan redha terhadap kita. Amin.
Selengkapnya...

Kamis, 30 Desember 2010

Bicara tentang Ayah

Ayah tak hanya memenuhi kebutuhan fisik. Kita sudah sepakat dengan hal ini. Tetapi, bagaimana seorang ayah bisa melaksanakan tugasnya dengan baik, kalau interaksi dengan anak bermasalah. Pagi-pagi sudah berangkat. Terkadang anak belum bangun. Padatnya pekerjaan, macetnya jalanan, berikut semua masalah di jalanan, membuat sang ayah pulang larut malam. Terkadang anak sudah tidur. Penantian mereka untuk sekadar memenuhi kelopak mata dengan wajah ayah, tidak terpenuhi. Setelah pagi tadi, tidak sempat mengecup tangan ayah sebelum keberangkatannya.

Anak-anak baru merasa punya ayah pada hari Sabtu dan Minggu saja. Terlihat seonggok fisik kelelahan di kursi rumah, setelah 5 atau 6 hari padat beraktifitas.

Ada lagi, seorang ayah yang harus bertugas jauh dari anaknya. Sementara sang ibu kebingungan bagaimana harus membagi waktu antara suami dan anaknya. Kepulangan ayah yang sangat dirindukan baru bisa terlaksana sebulan sekali. Ups...lebih lama lagi nih.

“Alhamdulillah...saya punya waktu yang cukup untuk anak saya,” kata sebagian ayah. Tentu menggembirakan mendengarnya. Tetapi, sayangnya kalimat ini masih berbuntut. “Tapi saya tidak tahu harus menjadi ayah seperti apa?” Oohhh... nampaknya seorang ayah yang sedang kebingungan tentang perannya sebagai ayah.

Kadang ayah, kadang bukan. Ayah kadang-kadang. Malah ada yang tidak terasa sama sekali keayahannya. Sang anak tidak merasa punya ayah. Yatim sebelum waktunya. Kalau lisan mereka boleh berucap, mereka akan berkata kepada bundanya: bunda, carikan aku ayah...
Berapa banyak ya, jumlah ayah di Indonesia seperti ilustrasi di atas? Banyak atau sedikit?

Nah, Anda sendiri tipe ayah yang mana?

Para ayah yang baik....
Mari kita terus belajar. Kalimat-kalimat di atas bukan untuk memojokkan apalagi hanya menyalahkan. Astaghfirullah...

Tetapi untuk melakukan evaluasi, berharap solusi untuk permasalahan dan petunjuk untuk peran keayahan. Untuk generasi yang lebih istimewa dari kita.

Ayah...sebagai pengingat kembali untuk kita, inilah kalimat Ibnu Qoyyim yang akan kita analisa kata per kata, “Betapa banyak orang yang menyengsarakan anaknya, buah hatinya di dunia dan akhirat karena ia tidak memperhatikannya, tidak mendidiknya dan memfasilitasi syahwat (keinginannya), sementara dia mengira telah memuliakannya padahal dia telah merendahkannya.”

Kesengsaraan anak di dunia bahkan hingga di akhirat nanti karena hilangnya perhatian seorang ayah terhadap anaknya.
Perhatian...? Bukankah banyak para ayah yang merasa telah memperhatikan anaknya? Di mana kurangnya?

Ya, perhatian itu berbagai macam bentuknya. Ada perhatian secara fisik dengan sentuhan mantap atau ekspresi wajah seorang ayah. Ada secara fasilitas hidup dengan sarana yang disediakan oleh ayah. Ada sapaan menyejukkan di pagi hari dan ucapan selamat atas prestasi dengan lisan ayah. Ada doa yang mengalir dari ketulusan hati seorang ayah.
Ini bukan pilihan, tetapi harus dilaksanakan semua. Sekarang para ayah tahu bukan, mengapa perhatian ayah masih dianggap kurang. Karena masih memilih satu atau beberapa saja. Biasanya hanya perhatian fasilitas hidup yang dipilih.

Kalau boleh, saya membagi perhatian menjadi tiga macam:

1. Perhatian dalam bentuk kuantitas
2. Perhatian dalam bentuk kualitas
3. Perhatian dalam sunyi

Perhatian dalam bentuk kuantitas, artinya kehadiran fisik sang ayah. Demikian juga pemenuhan fasilitas hidup yang merupakan kewajiban ayah.
Sang anak bisa menatap wajah ayahnya. Bisa menyentuh tubuh ayah. Bisa meraba rambut ayah. Bisa menggandeng tangan ayah.
Sang anak bisa mendapatkan fasilitas untuk belajarnya, sekolahnya, bermainnya, komunikasinya, kebutuhan hidup sehari-harinya.

Perhatian kuantitas itu ibarat wadah. Kalau wadah itu belum ada, bagaimana seorang ayah bisa mengisi anaknya dengan misi kebaikan?

Untuk poin ini, masalah muncul pada ayah yang sibuk atau bekerja di luar kota jauh dari anak-anaknya dan jarang ada pertemuan fisik. Bagaimana solusinya? Sabar ya ayah...insya Allah akan kita bahas pada tulisan berikutnya. Tetapi mohon dijauhkan dulu kalimat apologis, “Yang penting kualitas pertemuan. Buat apa kuantitas pertemuan sering, tetapi tidak berkualitas.” Karena bukan itu jawabannya!

Perhatian dalam bentuk kualitas, artinya kehadiran fisik dan pemenuhan fasilitas itu harus ada ruhnya. Bukan pertemuan kosong. Permainan tanpa visi. Jalan-jalan tanpa misi. Duduk tanpa dialog. Pembicaraan tanpa nilai.

Perhatian kuantitas itu ibarat wadah. Kalau sudah ada, jangan sampai tidak diisi dengan misi kebaikan. Sayang...
Untuk poin ini, akan kita bahas detailnya sepanjang kita belajar bersama tentang keayahan.

Perhatian dalam sunyi, artinya sang ayah tetap menyediakan ruang yang lapang dalam hati dan lisannya saat ia sendirian. Dalam perencanaan hidupnya, dalam doa dan dzikirnya.

Saat nanti kita belajar tentang Ibrahim, para ayah akan tahu betapa Ibrahim ayah dahsyat itu selalu membasahi lisannya dengan doa untuk generasinya. Dalam sendirinya. Dalam kesunyiannya. Dari hatinya yang paling dalam.

Untuk poin ini, para ayah tinggal belajar bermacam doa untuk generasi dan terus berupaya mendekatkan diri kepada Allah.
Wadah yang telah terisi itu, semakin terlihat indah dengan hiasan yang mengitarinya.
Nah, ini ada hasil penelitian tentang anak yang ‘tidak punya’ ayah:

Dalam penelitian yang dilakukan oleh Kalter dan Rembar di Rumah Sakit Jiwa Anak, (University of Michigan), dari sampel 144 anak dan remaja awal yang orang tuanya bercerai, sering mengalami tiga hal:

63% masalah psikologis subjektif (didefinisikan sebagai kecemasan, kesedihan, suasana hati yang mudah berubah-ubah, fobia, dan depresi)
56% Prestasi rendah atau prestasi di bawah kemampuan yang pernah dicapainya
43% Melakukan agresi kepada orang tua (Clinical Observations on Interferences of Early Father Absence in the Achievement of Femininity by R. Lohr, C. g, A. Mendell and B. Riemer, Clinical Social Work Journal, V. 17, #4, Winter, 1989)

Para ayah yang baik...

Yuk ah, kita belajar kepada Rasulullah. Shalih bin Awwad al-Maghamisi (al-Ayyam an-Nadzirah wa as-Siroh al-Athiroh, h. 51, MS) menjelaskan, “Fathimah putri yang paling dicintai Nabi shallallahu alaihi wasallam. Imam adz-Dzahabi ketika menuliskan biografi Fathimah dalam al-a’lam berkata: (Dia adalah bagian dari kenabian dan pilihan). Fathimah adalah orang yang paling mirip cara jalannya dengan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Rasulullah mencintainya, memuliakannya, mengagungkannya, jika dia mendatangi Rasul beliau menciumnya dan memeluknya. Fathimah adalah bagian dari beliau, Rasul berkata: (Fathimah bagian dari diriku, apa saja yang membuatnya gundah juga akan membuatku gundah, apa saja yang menyakitinya juga menyakitiku), atau kalimat yang semisalnya.”

Penggambaran singkat ini, menggambarkan jelas bahwa Rasul hadir secara fisik, memperhatikannya, mampu bersatu dalam rasa dengan putrinya.

Mari kita semua menjadi para ayah yang bisa dirasakan kehadirannya. Bukan saja pada fasilitas hidup. Tetapi dalam seluruh lembaran kehidupan anak-anak kita.***
Selengkapnya...

Jumat, 28 Mei 2010

Jaring-Jaring Kualitas

Sengatan matahari kian menggigit. Rasa dahaga sangat mencekik kerongkongan, hingga satu persatu dari tentara Thalut mulai kehilangan kepercayaan diri. Medan perang belum lagi tampak, tetapi rintangan yang menghadang sangatlah berat dirasakan. Mereka tidak menyangka kalau kesanggupan mereka untuk mengikuti perintah sang pemimpin demikian berat konsekuensinya. Keletihan tampak di wajah mereka yang berdebu, dengan mulut memutih, pecah-pecah dan sangat kering. Tidak ada kata lain, hanya...air

Pasukan pembawa panji iman yang awalnya bersemangat mulai kendor nyalinya manakala merasakan beratnya medan yang mereka lalui. Padang pasir yang gersang, panas matahari yang membakar, kurangnya perbekalan mereka terutama air sebagai pemutus dahaga, membuat mereka semakin bertindak dungu. Mereka mulai menggerutu dan menyesali keputusan mereka sendiri untuk turut serta berperang. Itulah ujian yang kesekian kalinya gagal mereka lakukan.

Ketika Thalut dan pasukannya melewati sebuah sungai, keinginan mereka untuk minum airnya sungguh tak tertahankan. Larangan dari sang pemimpin mereka agar menahan diri dan tidak berlebihan meminum air sungai tersebut kecuali secukupnya saja, tidak mereka indahkan. Rupanya sengatan panas matahari telah membuat sangat serakah tatkala melihat air. Mereka minum sepuas-puasnya. Yang minum lebih banyak dari yang tidak atau dari yang sekedar minum secebokan tangan.

Ujian itu makin mengerucutkan jumlah yang telah sedikit itu menjadi lebih sedikit lagi. Mereka yang tidak meminum air sungai kecuali secukupnya saja itulah yang dizinkan ikut berperang. Sedangkan mereka yang minum secara berlebihan dianggap tidak layak meneruskan ekspedisi suci ini. Karena pelanggaran terhadap perintah pemimpin adalah sebuah kesalahan fatal yang tidak boleh terjadi, apalagi dalam kondisi genting seperti perang. Kini, jumlah itu menyusut dengan jumlah yang semakin ramping.

Ujian dan seleksi masih belum selesai, tatkala melihat realita di medan perang tak seperti yang mereka bayangkan. Ternyata jumlah musuh sangatlah besar dengan persenjataan lebih lengkap. Ciut sudah nyali mereka. Mereka seakan-akan melihat maut akan menyongsong mereka hari itu. Sebagian dari mereka berkata : “ Tiadalah kesanggupan kami pada hari ini untuk melawan Jalut dan tentaranya”. Mental mereka keburu jatuh sebelum berperang. Padahal Allah telah menjanjikan kemenangan untuk mereka bila mereka taat kepada Allah dan Nabi-Nya.

Ujian demi ujian datang silih berganti, menguji komitmen dan ketaatan mereka terhadap kebenaran. Ujian ibarat saringan, yang akan menyaring kualitas setiap orang yang melewatinya. Dan ternyata benar, sampai bertemunya dua pasukan, jumlah tentara Thalut tinggal sedikit. Sisa yang sedikit itulah yang benar-benar lulus dalam ujian ksatriaan. Mereka itulah yang benar-benar siap bertempur, yang selanjutnya terhimpun menjadi satu kekuatan kecil dengan kualitas yang setara dengan pasukan besar.

Kelompok itu adalah kelompok orang-orang yang beriman. Mereka senantiasa bersabar dalam berjuang dan selalu tabah dalam menghadapi tekanan, godaan dan pengaruh-pengaruh negatif dari teman maupun lawan. Mereka adalah kelompok yang tidak membangkang perintah pemimpin mereka, karena mereka sangat memahami urgensi ketaatan. Mereka percaya kemenangan bukanlah masalah jumlah, tapi bobot. Sedemikian tsiqohnya mereka, sehingga ketika yang lain mulai luluh, mereka justru semakin teguh. Dengan tegarnya berucap : “ berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang besar bila Allah mengizinkan.”

Diriwayatkan dari as-Sudi, jumlah tentara Thalut kala itu kurang lebih mencapai 80.000 pasukan. Namun setelah melewati sungai, jumlah itu berkurang menjadi tidak lebih dari 310 prajurit saja. Sedangkan menurut Bukhari dari riwayat Bara’ bin Azib radhiyallahu anhu, pasukan itu sekitar 317-an saja.

********

Menang dan kalah bukanlah masalah kuantitas atau fasilitas, tapi kualitas. Satu orang yang berkualitas dapat saja melakukan sesuatu yang seharusnya dilakukan sepuluh orang. Bahkan ada seseorang yang keberadaannya menyamai kualitas seratus orang, bahkan seribu orang, bahkan lebih. Efesiensi yang dipadankan dengan kualitas menghasilkan sebuah hasil yang maksimal dengan modal yang minimal.

Perjuangan Islam pada mulanya adalah perjuangan yang sangat berat, penuh onak dan duri, cobaan dan rintangan. Dakwah yang dilakukan Nabi pada periode Mekkah hanya sanggup menggaet orang dalam jumlah yang terbilang kecil. Pertama-tama Isteri beliau, Khadijah, kemudian shahabat karib beliau, Abu Bakar dan anak paman beliau, Ali bin Abi Thalib. Setelah itu berturut-turut Utsman bin Affan, Thalhah bin Ubaidillah, Sa’ad bin Abi Waqqash, Abdurrahman bin Auf, Zubair bin Awwam dan Bilal bin Rabah.

Jumlah yang sedikit itu bukanlah kacang kulit tanpa isi. Kualitas mereka benar-benar diatas rata-rata. Ujian dan cobaan yang mereka terima tidak menjadikan mereka kendor, malah semakin membuat mereka teguh memegang Islam. Ibarat paku yang terus menerus dihantam palu godam, akan semakin kuat menancap. Mereka mempertaruhkan semua yang mereka miliki, harta benda, jiwa dan raga mereka. Ada yang dipakaikan kepadanya baju besi dan kemudian dilemparkan ke padang pasir yang membara. Ada yang dihimpit batu besar di bawah terik matahari diatas hamparan pasir Mekkah. Dan masih ada yang lebih keras dari itu. Kekerasan fisik adalah harga yang harus mereka tebus begitu kalimat tauhid “ la ilaha illa allah Muhammad rasulullah” mereka ucapkan.

Ketika perintah hijrah turun, tidak ada pertanyaan : bagaimana harta benda saya? Bagaimana ladang dan kebun saya? Bagaimana nanti hidup saya? Yang ada hanyalah ucapan “ sam’an wa tho’atan”, kami mendengar dan kami ta’at. Keberkahan hidup ada pada keta’an pada Allah dan Rasul-Nya. Begitulah keyakinan mereka.

Satu hal lagi yang menambah militansi dan soliditas mereka, yaitu mereka sama sekali tidak pernah diming-imingi harta dan kekuasaan atau kenikmatan dunia lainnya. Dorongan untuk memeluk Islam dan memperjuangkannya adalah murni karena panggilan keimanan dan mencari ridha Allah. Karenanya, mereka sangat solid, militan dan berwibawa. Berbagai macam dorongan nafsu dan syahwat dunia tidak dapat menggoyahkan keimanan di hati mereka, karena dunia sudah begitu tunduk ditangan-tangan mereka, sedang akhirat senantiasa bersemayam di hati-hati mereka.

Jalan dakwah bukanlah jalan tanpa hambatan. Ia sarat onak dan duri, aral yang melintang dan cobaan yang menghadang. Mereka yang memilih jalan dakwah adalah mereka yang memilih bersinggungan dengan resiko dan fitnah dunia. Komitmen untuk eksis bukanlah ucapan tanpa konsekuensi. Ada harga yang harus ditebus. Bukan saja kehilangan harta benda dan keluarga, bahkan jiwa dan raga. Dan para shahabat telah lulus dari itu semua. Mereka tahu, pengorbanan mereka di jalan dakwah tak akan hilang sia-sia.

Pengusung panji-panji Islam yang menempati garda depan bukanlah jumlah yang mayoritas, melainkan minoritas. Karena kualitas unggulan itu biasanya hanya ada pada segelintir orang saja, bukan pada kebanyakan orang. Dan semua orang punya kesempatan yang sama untuk menjadi bagian dari sekelompok kecil tersebut. Masalahnya sekarang ada pada tekad dan kemauan. Allah mengisyaratkan kecilnya golongan itu diantara jumlah yang mayoritas, dalam surat Ali Imran ayat : 104 :

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung”. (QS. Ali Imran ayat : 104).

Kisah Thalut dan Bani Israel diatas adalah pelajaran untuk umat ini agar mereka sadar bahwa faktor kemenangan bukan melulu pada urusan bilangan dan hitung-hitungan. Dibalik itu semua ada faktor non-teknis yang juga sangat berpengaruh, yaitu faktor ketuhanan. Usaha untuk tetap berada dalam koridor ketaatan amatlah urgen dalam pencapaian sebuah kemenangan. Kisah ini diturunkan kepada Nabi shallallahu alaihi wa sallam agar para shahabat khususnya dan umat islam pada umumnya mampu mengambil pelajaran bahwa mendiskusikan dan menawar-nawar kembali titah Allah dan Rasul-Nya adalah sebuah kesalahan fatal yang tidak seyogyanya dilakukan oleh seorang hamba.*

Selengkapnya...

Rabu, 24 Februari 2010

Shallu ‘Alan Nabiy

Sirah Nabawiyah

dakwatuna.com – Apa yang Tuan fikirkan tentang seorang laki-laki berperangai amat mulia, yang lahir dan dibesarkan di celah-celah kematian demi kematian orang-orang yang amat mengasihinya? Lahir dari rahim sejarah, ketika tak seorangpun mampu mengguratkan kepribadian selain kepribadiannya sendiri. Ia produk ta’dib Rabbani (didikan Tuhan) yang menantang mentari dalam panasnya dan menggetarkan jutaan bibir dengan sebutan namanya, saat muadzin mengumandangkan suara adzan.

Di rumahnya tak dijumpai perabot mahal. Ia makan di lantai seperti budak, padahal raja-raja dunia iri terhadap kekokohan struktur masyarakat dan kesetiaan pengikutnya. Tak seorang pembantunya pun mengeluh pernah dipukul atau dikejutkan oleh pukulannya terhadap benda-benda di rumah. Dalam kesibukannya ia masih bertandang ke rumah puteri dan menantu tercintanya, Fathimah Azzahra dan Ali bin Abi Thalib. Fathimah merasakan kasih sayangnya tanpa membuatnya jadi manja dan hilang kemandirian. Saat Bani Makhzum memintanya membatalkan eksekusi atas jenayah seorang perempuan bangsawan, ia menegaskan: Sesungguhnya yang membuat binasa orang-orang sebelum kamu ialah, apabila seorang bangsawan mencuri mereka biarkan dia dan apabila yang mencuri itu seorang jelata mereka tegakkan hukum atasnya. Demi Allah, seandainya Fathimah anak Muhammad mencuri, maka Muhammad tetap akan memotong tangannya.”

Hari-hari penuh kerja dan intaian bahaya. Tapi tak menghalanginya untuk –lebih dari satu dua kali- berlomba jalan dengan Humaira, sebutan kesayangan yang ia berikan untuk Aisyah binti Abu Bakar Asshiddiq. Lambang kecintaan, paduan kecerdasan, dan pesona diri dijalin dengan hormat dan kasih kepada Asshiddiq, sesuai dengan namanya “si Benar”. Suatu kewajaran yang menakjubkan ketika dalam sibuknya ia masih menyempatkan memerah susu domba atau menambal pakaian yang koyak. Setiap kali para sahabat atau keluarganya memanggil ia menjawab: “Labbaik”. Dialah yang terbaik dengan prestasi besar di luar rumah, namun tetap prima dalam status dan kualitasnya sebagai “orang rumah”.

Di bawah pimpinannya, laki-laki menemukan jati dirinya sebagai laki-laki dan pada saat yang sama perempuan mendapatkan kedudukan amat mulia. “Sebaik-baik kamu ialah yang terbaik terhadap keluarganya dan akulah orang terbaik di antara kamu terhadap keluargaku.” “Tak akan memuliakan perempuan kecuali seorang mulia dan tak akan menghina perempuan kecuali seorang hina.” demikian pesannya.

Di sela 27 kali pertempuran yang digelutinya langsung (ghazwah) atau dipanglimai sahabatnya (sariyah) sebanyak 35 kali, ia masih sempat mengajar Al-Qur’an, sunnah, hukum, peradilan, kepemimpinan, menerima delegasi asing, mendidik kerumahtanggaan bahkan hubungan yang paling khusus dalam keluarga tanpa kehilangan adab dan wibawa. Padahal, masa antara dua petempuran itu tak lebih dari 1,7 bulan.

Setiap kisah yang dicatat dalam hari-harinya selalu bernilai sejarah. Suatu hari datanglah ke masjid seorang Arab gunung yang belum mengerti adab di masjid. Tiba-tiba ia kencing di lantai masjid yang berbahan pasir. Para sahabat sangat murka dan hampir saja memukulnya. Sabdanya kepada mereka : “Jangan, biarkan ia menyelesaikan hajatnya.” Sang Badui terkagum, ia mengangkat tangannya, “Ya Allah, kasihilah aku dan Muhammad. Jangan kasihi seorangpun bersama kami.” Dengan tersenyum ditegurnya Badui tadi agar jangan mempersempit rahmat Allah.

Ia kerap bercengkerama dengan para sahabatnya, bergaul dekat, bermain dengan anak-anak, Bahkan memangku balita mereka di pangkuannya. Ia terima undangan mereka: yang merdeka, budak laki-laki atau budak perempuan, serta kaum miskin. Ia jenguk rakyat yang sakit jauh di ujung Madinah. Ia terima permohonan maaf orang.

Ia selalu lebih dulu memulai salam dan menjabat tangan siapa yang menjumpainya dan tak pernah menarik tangan itu sebelum sahabat tersebut yang menariknya. Tak pernah menjulurkan kaki di tengah sahabatnya hingga menyempitkan ruang bagi mereka. Ia muliakan siapa yang datang, kadang dengan membentangkan bajunya. Bahkan ia berikan alas duduknya dan dengan sungguh-sungguh ia panggil mereka dengan nama yang paling mereka sukai. Ia beri mereka kuniyah (sebutan bapak atau ibu si Fulan). Tak pernah ia memotong pembicaraan orang, kecuali sudah berlebihan. Apabila seseorang mendekatinya saat ia shalat, ia cepat selesaikan shalatnya dan segera bertanya apa yang diinginkan orang itu.

Pada suatu hari dalam perkemahan tempur ia berkata: “Seandainya ada seorang saleh mau mengawalku malam ini”. Dengan kesadaran dan cinta, beberapa sahabat mengawal kemahnya. Di tengah malam terdengar suara gaduh yang mencurigakan. Para sahabat bergegas ke sumber suara. Ternyata ia telah ada disana mendahului mereka, tegak diatas kuda tanpa pelana, “Tenang, hanya angin gurun,” hiburnya. Nyatalah bahwa keinginan ada pengawal itu bukan karena ketakutan atau pemanjaan diri, tetapi pendidikan disiplin dan loyalitas.

Ummul Mukminin Aisyah ra. berkata: “Rasulullah SAW wafat tanpa meninggalkan makanan apapun yang bisa dimakan makhluk hidup, selain setengan ikat gandum di penyimpananku. Saat ruhnya dijemput, baju besinya masih digadaikan kepada seorang Yahudi untuk harga 30 gantang gandum.”

Sungguh ia berangkat haji dengan kendaraan yang sangat sederhana dan pakaian tak lebih harganya dari 4 dirham, seraya berkata, “Ya Allah, jadikanlah ini haji yang tak mengandung riya dan sum’ah.”

Pada kemenangan besar saat Makkah ditaklukkan, dengan sejumlah besar pasukan muslimin, ia menundukkan kepala, nyaris menyentuh punggung untanya sambil selalu mengulang-ulang tasbih, tahmid dan istighfar. Ia tidak mabuk kemenangan.

Betapapun sulitnya mencari batas bentangan samudera kemuliaan ini, namun beberapa kalimat ini membuat kita pantas menyesal tidak mencintainya atau tak menggerakkan bibir mengucap shalawat atasnya: “Semua nabi mendapatkan hak untuk mengangkat doa yang takkan ditolak dan aku menyimpannya untuk umatku kelak di padang mahsyar nanti.”

Ketika masyarakat Thaif menolak dan menghinakannya, malaikat penjaga bukit menawarkan untuk menghimpit mereka dengan bukit. Ia menolak, “Kalau tidak mereka, aku berharap keturunan di sulbi mereka kelak akan menerima dakwah ini, mengabdi kepada Allah saja dan tidak menyekutukan-Nya dengan apapun.”

Mungkin dua kata kunci ini menjadi gambaran kebesaran jiwanya. Pertama, Allah, sumber kekuatan yang Maha dahsyat, kepada-Nya ia begitu refleks menumpahkan semua keluhannya. Ini membuatnya amat tabah menerima segala resiko perjuangan; kerabat yang menjauh, sahabat yang membenci, dan khalayak yang mengusirnya dari negeri tercinta. Kedua, Ummati, hamparan akal, nafsu dan perilaku yang menantang untuk dibongkar, dipasang, diperbaiki, ditingkatkan dan diukirnya.

Ya, Ummati, tak cukupkah semua keutamaan ini menggetarkan hatimu dengan cinta, menggerakkan tubuhmu dengan sunnah dan uswah serta mulutmu dengan ucapan shalawat? Allah tidak mencukupkan pernyataan-Nya bahwa Ia dan para malaikan bershalawat atasnya (QS.Al Ahzab: 56), justru Ia nyatakan dengan begitu “vulgar” perintah tersebut, “Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah atasnya dan bersalamlah dengan sebenar-benar salam.”

Allahumma shalli ‘alaihi wa’ala aalih! (KH. Rahmat Abdullah)
Selengkapnya...