Selasa, 02 Maret 2010

Bertanya Tentang Cinta

Aku bertanya pada alam semesta tentang arti “CINTA”, lalu satu demi satu mereka menjawab…

Bumi menjawab:
“CINTA adalah hamparan tempat tumbuh segala bahagia dan harapan akan itu. Ia memang diinjak dan dihinakan, tetapi ia tak peduli. Pikir Cinta hanya memberi, dan itu sajalah inginnya.”

Air menjawab:
“CINTA adalah hujan yang menumbuhkan benih-benih rasa kesukaan, kerelaan akan keterikatan, kerinduan dan kesenduan, atau samudera kasih yang luas sebagai naungan segala perasaan

Api menjawab:
“CINTA adalah panas yang membakar segala, ia memusnahkan untuk dapat hidup dan menyala. Demi merasakannya, makhluk rela terbakar dalam amarah dan kedurhakaan.”

Angin menjawab:
“CINTA adalah hembusan yang menebar sayang tanpa tahu siapa tujuannya. Orang bilang ia buta, sebab itu inginnya. Ia tak terlihat, tapi tanpanya segala raga akan hampa.”

Langit menjawab:
“CINTA adalah luasan tanpa batas. Luasnya tiada makhluk yang tahu. Kecuali bahwa cinta itu bahagia yang biru, atau derita kelam yang kelabu

Matahari menjawab:
“CINTA adalah hidup untuk memberi energi kehidupan dan cahaya harapan. Ia tak akan lelah memberi sampai ia padam dan mati.”

Pohon menjawab:
“CINTA adalah akar yang menopang segalanya. Ia tulus hingga tak perlu terlihat dan dikenal. Tapi ia terus memberi agar batang bahagia tetap kokoh abadi, berbuah dan berbunga indah.”

Gunung menjawab:
“CINTA adalah rasa yang menjulang tinggi. Rasa itu demikian tenang dan menyejukkan. Namun saat gundah, Ia akan meleburkan sekelilingnya dengan lautan lava cemburu yang membara.”

Lalu, Aku bertanya pada CINTA:
“Wahai CINTA, apakah sebenarnya arti dirimu??”

CINTA menjawab:
“CINTA adalah engkau patuh terhadap-Nya, meski kau tak melihat-Nya. Engkau tidak mencium-Nya atau meraba-Nya, tapi engkau patuh karena engkau merasa akan hadir-Nya. Sebab CINTA bukan indera, tapi adalah rasa.”

“CINTA adalah engkau takut akan amarah-Nya, dan takut jika Ia meninggalkanmu. Takut jika Ia tak menyukaimu lagi. Lalu engkau mencari-cari alasan untuk selalu dekat dengannya, bahkan jika engkau harus menderita, atau yang lebih mengerikan dari itu.”

“CINTA adalah engkau menyimpan segala harapan pada-Nya dan tidak pada yang lain. Engkau tidak mendua dalam harapan, dan demikian selamanya. Cinta adalah engkau setia menjadi budak-Nya, yang engkau hidup untuk-Nya dan mati untuk kesukaan-Nya akan dirimu, hidup dan mati untuk Dia. Engkau berusaha sekerasnya agar engkau diakui, hanya sebagai budak, sebagai hamba.”

“Diatas segalanya, CINTA adalah engkau merasa kasih sayang yang tunggal yang tidak engkau berikan pada yang lain, selain pada-Nya. Engkau rindu akan hadir-Nya dan melihat-Nya. Engkau suka apa yang Ia sukai dan benci apa yang Ia benci, engkau merasakan segala ada pada-Nya dan segala atas nama-Nya.”

Aku lantas bertanya pada CINTA:
“Bisakah aku merasakannya?”

Sambil berlalu CINTA menjawab:
“Selama engkau mengetahui hakikat penciptaanmu dan bersyukur dengan apa yang Dia beri, maka itu semua akan kau rasakan, percayalah padaku tambahnya….”

Aku pun Berteriak, “Wahai KAU SANG MAHA PECINTA terimalah cintaku yang sederhana ini, izinkanlah aku merasakan cintaMu yang Maha Indah…”

Selengkapnya...

Rabu, 24 Februari 2010

Shallu ‘Alan Nabiy

Sirah Nabawiyah

dakwatuna.com – Apa yang Tuan fikirkan tentang seorang laki-laki berperangai amat mulia, yang lahir dan dibesarkan di celah-celah kematian demi kematian orang-orang yang amat mengasihinya? Lahir dari rahim sejarah, ketika tak seorangpun mampu mengguratkan kepribadian selain kepribadiannya sendiri. Ia produk ta’dib Rabbani (didikan Tuhan) yang menantang mentari dalam panasnya dan menggetarkan jutaan bibir dengan sebutan namanya, saat muadzin mengumandangkan suara adzan.

Di rumahnya tak dijumpai perabot mahal. Ia makan di lantai seperti budak, padahal raja-raja dunia iri terhadap kekokohan struktur masyarakat dan kesetiaan pengikutnya. Tak seorang pembantunya pun mengeluh pernah dipukul atau dikejutkan oleh pukulannya terhadap benda-benda di rumah. Dalam kesibukannya ia masih bertandang ke rumah puteri dan menantu tercintanya, Fathimah Azzahra dan Ali bin Abi Thalib. Fathimah merasakan kasih sayangnya tanpa membuatnya jadi manja dan hilang kemandirian. Saat Bani Makhzum memintanya membatalkan eksekusi atas jenayah seorang perempuan bangsawan, ia menegaskan: Sesungguhnya yang membuat binasa orang-orang sebelum kamu ialah, apabila seorang bangsawan mencuri mereka biarkan dia dan apabila yang mencuri itu seorang jelata mereka tegakkan hukum atasnya. Demi Allah, seandainya Fathimah anak Muhammad mencuri, maka Muhammad tetap akan memotong tangannya.”

Hari-hari penuh kerja dan intaian bahaya. Tapi tak menghalanginya untuk –lebih dari satu dua kali- berlomba jalan dengan Humaira, sebutan kesayangan yang ia berikan untuk Aisyah binti Abu Bakar Asshiddiq. Lambang kecintaan, paduan kecerdasan, dan pesona diri dijalin dengan hormat dan kasih kepada Asshiddiq, sesuai dengan namanya “si Benar”. Suatu kewajaran yang menakjubkan ketika dalam sibuknya ia masih menyempatkan memerah susu domba atau menambal pakaian yang koyak. Setiap kali para sahabat atau keluarganya memanggil ia menjawab: “Labbaik”. Dialah yang terbaik dengan prestasi besar di luar rumah, namun tetap prima dalam status dan kualitasnya sebagai “orang rumah”.

Di bawah pimpinannya, laki-laki menemukan jati dirinya sebagai laki-laki dan pada saat yang sama perempuan mendapatkan kedudukan amat mulia. “Sebaik-baik kamu ialah yang terbaik terhadap keluarganya dan akulah orang terbaik di antara kamu terhadap keluargaku.” “Tak akan memuliakan perempuan kecuali seorang mulia dan tak akan menghina perempuan kecuali seorang hina.” demikian pesannya.

Di sela 27 kali pertempuran yang digelutinya langsung (ghazwah) atau dipanglimai sahabatnya (sariyah) sebanyak 35 kali, ia masih sempat mengajar Al-Qur’an, sunnah, hukum, peradilan, kepemimpinan, menerima delegasi asing, mendidik kerumahtanggaan bahkan hubungan yang paling khusus dalam keluarga tanpa kehilangan adab dan wibawa. Padahal, masa antara dua petempuran itu tak lebih dari 1,7 bulan.

Setiap kisah yang dicatat dalam hari-harinya selalu bernilai sejarah. Suatu hari datanglah ke masjid seorang Arab gunung yang belum mengerti adab di masjid. Tiba-tiba ia kencing di lantai masjid yang berbahan pasir. Para sahabat sangat murka dan hampir saja memukulnya. Sabdanya kepada mereka : “Jangan, biarkan ia menyelesaikan hajatnya.” Sang Badui terkagum, ia mengangkat tangannya, “Ya Allah, kasihilah aku dan Muhammad. Jangan kasihi seorangpun bersama kami.” Dengan tersenyum ditegurnya Badui tadi agar jangan mempersempit rahmat Allah.

Ia kerap bercengkerama dengan para sahabatnya, bergaul dekat, bermain dengan anak-anak, Bahkan memangku balita mereka di pangkuannya. Ia terima undangan mereka: yang merdeka, budak laki-laki atau budak perempuan, serta kaum miskin. Ia jenguk rakyat yang sakit jauh di ujung Madinah. Ia terima permohonan maaf orang.

Ia selalu lebih dulu memulai salam dan menjabat tangan siapa yang menjumpainya dan tak pernah menarik tangan itu sebelum sahabat tersebut yang menariknya. Tak pernah menjulurkan kaki di tengah sahabatnya hingga menyempitkan ruang bagi mereka. Ia muliakan siapa yang datang, kadang dengan membentangkan bajunya. Bahkan ia berikan alas duduknya dan dengan sungguh-sungguh ia panggil mereka dengan nama yang paling mereka sukai. Ia beri mereka kuniyah (sebutan bapak atau ibu si Fulan). Tak pernah ia memotong pembicaraan orang, kecuali sudah berlebihan. Apabila seseorang mendekatinya saat ia shalat, ia cepat selesaikan shalatnya dan segera bertanya apa yang diinginkan orang itu.

Pada suatu hari dalam perkemahan tempur ia berkata: “Seandainya ada seorang saleh mau mengawalku malam ini”. Dengan kesadaran dan cinta, beberapa sahabat mengawal kemahnya. Di tengah malam terdengar suara gaduh yang mencurigakan. Para sahabat bergegas ke sumber suara. Ternyata ia telah ada disana mendahului mereka, tegak diatas kuda tanpa pelana, “Tenang, hanya angin gurun,” hiburnya. Nyatalah bahwa keinginan ada pengawal itu bukan karena ketakutan atau pemanjaan diri, tetapi pendidikan disiplin dan loyalitas.

Ummul Mukminin Aisyah ra. berkata: “Rasulullah SAW wafat tanpa meninggalkan makanan apapun yang bisa dimakan makhluk hidup, selain setengan ikat gandum di penyimpananku. Saat ruhnya dijemput, baju besinya masih digadaikan kepada seorang Yahudi untuk harga 30 gantang gandum.”

Sungguh ia berangkat haji dengan kendaraan yang sangat sederhana dan pakaian tak lebih harganya dari 4 dirham, seraya berkata, “Ya Allah, jadikanlah ini haji yang tak mengandung riya dan sum’ah.”

Pada kemenangan besar saat Makkah ditaklukkan, dengan sejumlah besar pasukan muslimin, ia menundukkan kepala, nyaris menyentuh punggung untanya sambil selalu mengulang-ulang tasbih, tahmid dan istighfar. Ia tidak mabuk kemenangan.

Betapapun sulitnya mencari batas bentangan samudera kemuliaan ini, namun beberapa kalimat ini membuat kita pantas menyesal tidak mencintainya atau tak menggerakkan bibir mengucap shalawat atasnya: “Semua nabi mendapatkan hak untuk mengangkat doa yang takkan ditolak dan aku menyimpannya untuk umatku kelak di padang mahsyar nanti.”

Ketika masyarakat Thaif menolak dan menghinakannya, malaikat penjaga bukit menawarkan untuk menghimpit mereka dengan bukit. Ia menolak, “Kalau tidak mereka, aku berharap keturunan di sulbi mereka kelak akan menerima dakwah ini, mengabdi kepada Allah saja dan tidak menyekutukan-Nya dengan apapun.”

Mungkin dua kata kunci ini menjadi gambaran kebesaran jiwanya. Pertama, Allah, sumber kekuatan yang Maha dahsyat, kepada-Nya ia begitu refleks menumpahkan semua keluhannya. Ini membuatnya amat tabah menerima segala resiko perjuangan; kerabat yang menjauh, sahabat yang membenci, dan khalayak yang mengusirnya dari negeri tercinta. Kedua, Ummati, hamparan akal, nafsu dan perilaku yang menantang untuk dibongkar, dipasang, diperbaiki, ditingkatkan dan diukirnya.

Ya, Ummati, tak cukupkah semua keutamaan ini menggetarkan hatimu dengan cinta, menggerakkan tubuhmu dengan sunnah dan uswah serta mulutmu dengan ucapan shalawat? Allah tidak mencukupkan pernyataan-Nya bahwa Ia dan para malaikan bershalawat atasnya (QS.Al Ahzab: 56), justru Ia nyatakan dengan begitu “vulgar” perintah tersebut, “Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah atasnya dan bersalamlah dengan sebenar-benar salam.”

Allahumma shalli ‘alaihi wa’ala aalih! (KH. Rahmat Abdullah)
Selengkapnya...

Rabu, 30 Desember 2009

belajar memahami

perbedaan adalah suatu yang pasti karena memang sunah kauniyah dalam penciptaan alam semesta ini , jadi agar dengan keberagaman itu manusia dan alam dapat menjalankan fungsinya dengan serasi maka dibuatlah Aturan atau hukum Allah (yang bersumber dari Al-Qur'an) ,mari kita coba belajar memahami selengkapnya... Selengkapnya...

Selasa, 22 Desember 2009

Negara Dalam Islam

Yang kita maksud dengan kata “negara” di sini adalah (dalam batas sesederhana mungkin): “Satu-satunya kekuatan yang teratur dan terpimpin dalam teritorial tertentu, yang menguasai segala sesuatunya dan mengurus seluruh masalah pada batas teritorial tersebut”.

Kebutuhan manusia sebagai makhluk sosial terhadap adanya negara adalah kebutuhan yang tidak ada perselisihan padanya di antara orang-orang yang berakal. Seperti halnya pribadi seorang manusia, maka negara pun terbagi atas dua macam utama, yaitu negara Islam dan non Islam.

Negara Islam adalah “Negara yang menegakkan syari’ah tauhid (Syari’ah Islam) sebagai satu-satunya syari’ah yang dijadikan pedoman dan payung hukum di negara tersebut”. Penegakan syari’ah yang dimaksud adalah “Penegakkan secara menyeluruh di seluruh bidang kehidupan”.

Sedangkan negara non Islam adalah “Negara yang menegakkan selain hukum Alloh pada batas teritorial kekuasaannya, baik sebagai satu-satunya hukum maupun sebagai pendamping hukum Alloh, terlepas dari agama penguasanya atau mayoritas penduduknya”.[1] KenonIslaman sebuah negara tidak sama sekalimenunjukkan kekafiran penduduknya, hal ini mempunyai tafsil (rincian) yang luas.

Posisi dan peranan negara Islam sangat penting sekali dalam agama Islam, sampai-sampai Al-Qurtubi dalam bukunya “Al-Jami’ li Ahkam Al Qur’an”, menyebutnya sebagai salah satu rukun dari rukun-rukun agama.Untuk lebih menyelami lagi tentang pentingnya posisi dan peranan negara Islam dalam agama, mari kita simak pasal-pasal berikut ini:

1. Islam mempunyai hukum-hukum yang penegakkannya memerlukan kekuatan sulthon (Imam) dan penegakkan hukum-hukum Alloh adalah hak dari hak-hak uluhiyyah, yaitu hak-hak tauhid. Dari sini kita bisa melihat hubungan keberadaan negara dengan penegakkan tauhidulloh yang Maha Agung.

“Sesungguhnya Kami telah mengutus rosul-rosul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka Al-Kitab dan neraca (keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan. Dan Kami ciptakan besi yang padanya terdapat kekuatan yang hebat dan ber-bagai manfaat bagi manusia, (supaya mereka mempergunakan besi itu) dan supaya Alloh mengetahui siapa yang menolong (agama)-Nya dan rosul-rosul-Nya padahal Alloh tidak dilihatnya. Sesungguhnya Alloh Maha Kuat lagi Maha Perkasa.” (QS. Al Hadid(57): 25)

2. Islam mewajibkan amar ma’ruf nahi munkar. Banyak sekali pasal-pasal dari kewajiban ini yang tidak mungkin dilakukan tanpa imam (Negara). kalau kewajiban ini ditinggalkan, terjadilah kerusakan yang berat sekali dalam kehidupan dunia dan kehidupan beragama.

“(Yaitu) orang-orang yang mengikuti Rosul, Nabi yang ummi yang (nama-nya) mereka dapati tertulis dalam Taurot dan Injil yang ada di sisi mereka yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma’ruf dan mela-rang mereka dari mengerjakan yang munkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Maka orang-orang yang beriman kepadanya, memu-liakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturun-kan kepadanya (Al Qur’an), mereka itulah orang-orang yang beruntung”. (QS. Al A’raaf (7): 157)

“Dan hendaklah ada di antara kalian segolongan umat yang menyeru pada kebaikan, menyuruh pada yang ma’ruf dan mencegah pada yang munkar, mereka adalah orang-orang yang beruntung”. (QS. Al Imron (3): 104)

“Kalian adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyeru pada yang ma`ruf dan mencegah dari yang munkar serta beriman pada Alloh. Sekiranya Ahli kitab beriman, tentulah hal itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik”. (QS. Al Imron (3): 110)

[1] Kitab Ahamiyyah al Jihad, Ali bin Nafi’ al ‘Ulyani, h.362-370 dan Kitab Al Ghuluw Fi ad Dien, Abdur Rahman bin Mu’alla al Luwaihiq, h.330-33

3. Negara Islam berkewajiban melindungi kaum muslimin dari gangguan dan serangan kaum kafir yang memang sangat membenci mereka. Kalau negara Islam tidak ada, maka kaum kafir yang mempunyai negara itu akan dengan mudah menghancurkan kaum muslimin, baik dari segi keagamaan mereka maupun dari segi fisik mereka.

“Dan siapkan untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kalian sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (Yang dengan persiapan itu) kalian menggetarkan musuh Alloh, musuh-musuh kalian dan orang-orang selain mereka yang kalian tidak mengetahuinya, sedang-kan Alloh mengetahuinya. Apa saja yang kalian nafkahkan pada jalan Alloh niscaya akan dibalas dengan cukup kepada kalian dan kalian tidak akan di-aniaya (dirugikan)”. (QS. Al Anfaal (8): 60)

“Bagaimana bisa (ada perjanjian dari sisi Alloh dan Rosul-Nya dengan orang-orang musyrikin), padahal kalau mereka memperoleh kemenangan terhadap kalian, mereka tidak akan menghiraukan hubungan kekerabatan dengan kalian dan tidak (pula mengindahkan) perjanjian. Merekamenyenangkan hati kalian dengan mulut mereka, sedangkan hati mereka menolak. Dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik (tidak menepati perjanjian)”. (QS. At-Taubah (9): 8)

“Mereka tidak mengindahkan (hubungan) kekerabatan dengan orang-orang mu’min dan tidak (pula mengindahkan) perjanjian. Dan mereka itulah orang-orang yang melampaui batas”. (QS. At-Taubah (9): 10)

“Orang-orang Yahudi dan Nashroni tidak akan senang kepada kamu sehingga kamu mengikuti agama mereka Katakanlah: ”Sesungguhnya petunjuk Alloh itulah petunjuk (yang sebenarnya)”. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Alloh tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu”. (QS. Al Baqoroh (2): 120)

Semua yang kita sebutkan tadi hanyalah sebagian dari hal-hal yang menunjukan pentingnya peranan negara dalam mendirikan Islam, yang mana semuanya termasuk dalam kaidah yang sudah disepakati:

“Sesuatu yang menyebabkan suatu kewajiban tidak terwujud kecuali dengannya, maka sesuatu itu pun jadi wajib”.

Al Mawardi –rohimahulloh- berkata:

“Al-Imamah (kepemimpinan yaitu pimpinan negara Islam) dijadikan sebagai penerus (Yang mewakili) Nubuwwah (Tugas kenabian) dalam hal penjagaan agama dan pengurusan dunia. Pengangkatan orang yang menjalankannya (Yaitu: menjalankan kepemimpinan atau pemimpin)hukumnya adalah wajib menurut ijma’ ”.[1]

Ibnu Taimiyyah –rohimahulloh--berkata:

“Wajib kita ketahui bahwa kepemimpinan yang mengurus urusan-urusan manusia adalah salah satu kewajiban agama yang sangat besar, bahkan tidak akan tegak agama dan kehidupan dunia kecuali dengan tegaknya kepemimpinan itu”.[2]

Berkata Al-Jurjani di dalam kitab “Syarah Al-Mawaqif”:

“Pengangkatan imam (pemimpin) adalah sebagian dari maslahat muslimin yang tertinggi dan bagian dari tujuan-tujuan agama yang teragung”.

Ketika kita diperintahkan Alloh untuk memasuki Islam, kita diperintah-kan untuk memasukinya secara sempurna….

Alloh Subhanahu wa Ta`ala berfirman:

“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kalian ke dalam Islam secara keseluruhan dan janganlah kalian turuti langkah-langkah syaitan Sesung-guhnya syaitan itu musuh yang nyata bagi kalian”. (QS. Al Baqoroh(2): 208)

“Apakah kalian beriman kepada sebagian dari Al Kitab (Taurot ) dan ingkar terhadap sebagian yang lain? Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian dari pada kalian melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat. Alloh tidak lengah dari apa yang kalian perbuat”. (QS.Al Baqoroh (2): 85)

Dari dua ayat tadi kita pahami bahwa semua sisi kehidupan kita harus Islami, baik kehidupan pribadi, kehidupan keluarga, masyarakat, ekonomi, politik dan seluruh kehidupan berbangsa dan bernegara harus tunduk pada kedaulatan Islam, kedaulatan Alloh Subhanahu wa Ta`ala (bukan kepada kedaulatan rakyat dan lainnya).

Apakah yang terjadi bila negara Islam tidak ada..?

Kerusakan agama dan dunia, aqidah dan akhlaq terancam, syirik dan bid’ah merajalela, tauhid dan sunnah terpuruk, da`wah tertindas dan kesesatan menguat serta jiwa dan kehormatan kaum muslimin terancam. Semua itu mengundang bahaya yang lebih besar lagi yaitu kemurkaan AllohSubhanahu wa Ta`ala.

“Dan orang-orang yang mengingkari ahd’ (janji) dengan Alloh setelah diikrarkannya dan memutuskan apa-apa yang Alloh perintahkan agar dihu-bungkan dan mengadakan kerusakan di muka bumi, orang-orang itulah yang memperoleh laknat dan bagi mereka sejelek-jelek tempat kembali. (QS. Ar Ra’ad (13): 25)


Selengkapnya...