Kamis, 10 Juni 2010

Asal Mula Munculnya Yahudi

Budi Ashari Lc


Yahudi pertama kali muncul pada masa middle kingdom di Mesir, tahun 2000 SM. Mereka hidup dengan mengembara, kemudian sampai di Kan’an (zaman Nabi Ibrahim). Mereka berkembang seiring munculnya peradaban-peradaban besar seperti Babilonia, Asyiria, Phoenicia. Sekitar tahun 1200 SM Nabi Musa membawa mereka ke Palestina setelah sebelumnya diperbudak oleh Fir’aun di Mesir.

Pada tahun 1200 SM- 900 SM, mereka mengalami periode independen, mereka punya pemerintahan sendiri yang dipimpin oleh raja mereka yang terkenal David (Nabi Dawud) kemudian dilanjutkan oleh Solomon (Nabi Sulaiman). Setelah itu palestina pecah menjadi dua: Yehuda (Judah) dan Israel.

Sekitar tahun 800 SM-500 SM bani israel berada dalam dominasi Asyiria dan Babilonia. Nebukadnezar menyerang Jerussalem dan mengakhiri riwayat kerajaan Judah. Bangsa Yahudi diusir ke Babilonia. Persia dipimpin kaisar Cyrus menaklukkan Babilonia dan mendominasi bani Israel dari tahun 500 SM-300 SM. Mereka kembali ke Palestina dipimpin oleh Ezra. Kemudian Alexander dari Macedonia (bangsa Yunani) mengalahkan Persia di Granicus serta menguasai Timur Tengah termasuk Palestina.

Dibawah kekuasaan Yunani, awalnya Palestina dipegang oleh dinasti Ptolemy (323 SM-198 SM) yang dipimpin oleh pendeta Tinggi. Kemudian Palestina direbut oleh dinasti Seleucid. Polis-polis di Yunani mulai ribut satu sama lain . Akhirnya Romawi datang mengalahkan Hannibal dan menjadi tuan di tanah Yunani melalui perang Makedonia III. Pada tahun 63 SM, Romawi berhasil menguasai Palestina. Pada masa inilah nabi Isa lahir.

Pada awal periode setelah masehi, Jerussalem dihancurkan oleh Romawi karena pemberontakan bangsa Yahudi. Kemudian mereka menyebar dan menjadi warga negara Romawi. pada tahun 100 M-200 M, bangsa Yahudi memberontak lagi, tapi berhasil dipadamkan.

Tahun 400-600 M, raja Barbar menjarah Roma habis-habisan dan merampas tahtanya dan mulailah zaman Feodal di Eropa. Pada saat ini kepausan (papacy) berdiri sebagai pusat kristen di dunia. Orang-orang Roma tersebar kemana-mana. Sebagian mereka tinggal di Eropa dan ada yang memilih tinggal di Arab, termasuk orang-orang Yahudi. Mereka menetap di Arab sampai Islam datang.

Orang-orang yahudi merasa terancam dengan munculnya agama baru. Maka mereka pun melakukan berbagai cara untuk menekan dan melawan agama baru tersebut bahkan dengan peperangan. Tetapi mereka tak pernah berhasil, kemudian mereka mengadakan perjanjian dengan orang Islam. Karena pengkhianatan yang mereka lakukan terhadap perjanjian maka mereka pun diusir dari Madinah.

Kaum yahudi di eropa

Sedangkan orang-orang Yahudi yang tinggal di Eropa, mereka dipaksa menjadi kristen di Spanyol. Mereka menguasai perdagangan di Eropa. Sekitar tahun 800-900 M, Charlemagne mengundang kaum Yahudi ke wilayahnya untuk mengorganisasikan perusahaan-perusahaan besar di Eropa... disinilah Yahudi menjadi vital keberadaannya bahkan menguasai Eropa. Maka muncullah freemasonry yang menguasai kelompok-kelompok dagang Masonic lodges. Mereka memiliki 32 tingkatan, mereka dikuasai oleh gerakan Illuminati (perlawanan rahasia kaum gereja). Ketika Willian sang penakluk menginvasi Inggris mereka datang ke Inggris, mengembangkan sistem ekonomi perbankan dan menguasai ekonomi Eropa. Ketika terjadi perang Salib, orang-orang yahudi diusir oleh orang-orang Kristen. Mereka pindah ke Polandia. Di Polandia muncul sentimen anti yahudi akibat gosip tentang pembunuhan ritual dan penodaan “roti suci”. Mereka di bantai dan kitab Talmud mereka dibakar.

Pada tahun 1400 M, Yahudi diusir dari Perancis karena motivasi ekonomi, mereka juga diusir dari Spanyol sejak pengambilalihan kekuasaan dari kaum muslimin oleh bangsa Spaniard. Kaum Yahudi kemudian diasingkan di Ghetto-Ghetto di Italia, Jerman,dan Eropa Tengah. Ada juga yang memilih tinggal di Rusia.

Pada tahun 1500-1700 M, Renaissance menyibak kegelapan Eropa. Orang Yahudi diperbolehkan tinggal di Perancis, Belanda , Jerman, Rusia, dan Inggris. Sejak kedatangan Yahudi, Belanda menjadi kekuatan perdagangan yang luar biasa. Amsterdam pun di juluki “New Jerussalem”.

Revolusi Perancis menjadi titik tolak sejarah berikutnya. Napoleon memimpin Perancis dan menguasai Eropa. Pada masa ini muncul sentimen anti Yahudi (anti semitisme.)

Yahudi di balik revolusi-revolusi di eropa

Setelah sekian lama disingkirkan karena ditakuti oleh bangsa Eropa, bangsa Yahudi tampil ke depan dengan ide-ide modern : Nasionalisme, Demokrasi, liberalisme, Kapitalisme , bahkan Komunisme. Mereka menumbangkan raja-raja Eropa dengan ide-ide Demokrasi. Liberalisme mewarnai Eropa dengan jebolnya penjara Bastille. Para bangsawan di potong lehernya dengan Goulloitine.

Di masa pergolakan revolusi Liberal-Reaksioner ini kaum Yahudi terlibat di kedua belah pihak. Kadang di pihak reaksioner, kadang menjadi penggerak revolusi. Di Italia misalnya, mereka mendukung gerakan Carbonari (1820) dan Young italy (1831) yang kemudian ditumpas dengan Holy Alliance. Hal ini terjadi pula di Amerika, jerman , dan Rusia. Keterlibatan Yahudi dalam gerakan revolusi membuat mereka di benci oleh para pendukung Czar Rusia dan jenderal-jenderal Rusia. Pogroms (penyembelihan) dikampanyekan terhadap orang-orang Yahudi oleh penguasa Eropa Timur dan Rusia. Di Inggris dan Perancis mereka diasingkan dan mengalami kekerasan rasial. Jerman, di bawah Nazi, orang-orang Yahudi disingkirkan karena dianggap menentang supremasi Ras Arya. Mereka dibantai di kamp-kamp konsentrasi. Keadaan ini memunculkan gerakan zionisme yang diawali dengan tulisan Theodore Hertzl. Perang dunia I mengawali semua rencana Yahudi. Calon pemimpin Israel (David Ben Gurion dan Yitzhak Ben Zvi) sudah mulai tinggal di kawasan Palestina yang saat itu masih dalam kekuasaan khalifah.

Israel berdiri

Kedatangan rombongan-rombongan yahudi ke palestina dibagi sama zionis dalam tahap-tahap yang di sebut aliyah :

Aliyah pertama tahun 1882-1903 sekitar 25.000 Yahudi.

Aliyah kedua tahun 1905-1914 sekitar 40.000. di sini mereka mulai membentuk pola interaksi komunitas, institusi manyarakat, dan basis ideologis bagi negara Yahudi. Mereka juga mendirikan Kibbutz (pemukiman batas kaum yahudi). Sementara itu zionis menawarkan sultan Abdul Hamid II untuk menjual Palestina kepada mereka dengan imbalan penghapusan hutang khalifah dan uang dalam jumlah besar. Tapi sungguh indah jawaban yang di ucapkan oleh khalifah “aku lebih memilih memisahkan dagingku dari tubuhku sendiri daripada memisahkan palestina dari tubuh kaum muslimin…”.

Aliyah ketiga ketika PD I. Inggris berhasil menguasai Palestina. Deklarasi Belfour (2 November 1917) mengundang lebih banyak Yahudi ke Palestina, yakni tahun 1919-1923 berjumlah 35.000 orang.

Aliyah keempat tahun 1924-1931 sekitar 82.000.

Aliyah kelima tahun 1932-1938, diprovokasi Holocaustnya Hitler, datang sekitar 217.000 Yahudi ke Palestina. Israel kemudian berpaling ke Amerika mencari dukungan untuk mendirikan negara israel. Israel diproklamirkan oleh Theodore Hertzl tanggal 14 mei 1948.

Catatan : Prof. Sergei Nilus dari Rusia pada tahun 1905, menemukan dokumen protocol of zion (diyakini sebagai awal dari zionisme sebelum di proklamirkan oleh Theodore Hertzl ). Protokol tersebut menyebutkan bahwa dunia bakal diatur oleh sebuah pemerintahan rahasia yang disimbolkan dengan ular . ular ini mulai menguasai dunia di mulai dari Eropa, setelah ia melingkupi dunia pada akhirnya ia akan kembali ke Jerussalem. Ini adalah prediksi kembalinya kepala ular ke Jerussalem.

Mengapa harus palestina ?

Beberapa klaim Yahudi atas palestina sehingga mereka menjatuhkan pilihan untuk menetap di Palestina :

Klaim religius : mereka mengatakan bahwa Palestina adalah tanah yang dijanjikan buat mereka (the blessed land) setelah sekian lama berdiaspora ke seluruh penjuru dunia.

Klaim bahwa secara historis mereka adalah pemilik sah dari Palestina.

Palestina mempunyai beberapa keistimewaan, diantaranya adalah :

Tempat tinggalnya manusia pertama

Tempat di turunkannya semua agama samawi

Tempat dimana peradaban-peradaban kuno muncul

Jembatan aktifitas komersial

Tempat penyusupan ekspedisi militer di sepanjang era sejarah yang berbeda, di antaranya peradaban Babilonia, Asyiria, Al Hethyaan, Persia, Yunani, dan Romawi. Masing-masing pernah menduduki tanah Palestina.

Palestina jantung dunia Arab dan Islam.

Selengkapnya...

Jumat, 28 Mei 2010

Jaring-Jaring Kualitas

Sengatan matahari kian menggigit. Rasa dahaga sangat mencekik kerongkongan, hingga satu persatu dari tentara Thalut mulai kehilangan kepercayaan diri. Medan perang belum lagi tampak, tetapi rintangan yang menghadang sangatlah berat dirasakan. Mereka tidak menyangka kalau kesanggupan mereka untuk mengikuti perintah sang pemimpin demikian berat konsekuensinya. Keletihan tampak di wajah mereka yang berdebu, dengan mulut memutih, pecah-pecah dan sangat kering. Tidak ada kata lain, hanya...air

Pasukan pembawa panji iman yang awalnya bersemangat mulai kendor nyalinya manakala merasakan beratnya medan yang mereka lalui. Padang pasir yang gersang, panas matahari yang membakar, kurangnya perbekalan mereka terutama air sebagai pemutus dahaga, membuat mereka semakin bertindak dungu. Mereka mulai menggerutu dan menyesali keputusan mereka sendiri untuk turut serta berperang. Itulah ujian yang kesekian kalinya gagal mereka lakukan.

Ketika Thalut dan pasukannya melewati sebuah sungai, keinginan mereka untuk minum airnya sungguh tak tertahankan. Larangan dari sang pemimpin mereka agar menahan diri dan tidak berlebihan meminum air sungai tersebut kecuali secukupnya saja, tidak mereka indahkan. Rupanya sengatan panas matahari telah membuat sangat serakah tatkala melihat air. Mereka minum sepuas-puasnya. Yang minum lebih banyak dari yang tidak atau dari yang sekedar minum secebokan tangan.

Ujian itu makin mengerucutkan jumlah yang telah sedikit itu menjadi lebih sedikit lagi. Mereka yang tidak meminum air sungai kecuali secukupnya saja itulah yang dizinkan ikut berperang. Sedangkan mereka yang minum secara berlebihan dianggap tidak layak meneruskan ekspedisi suci ini. Karena pelanggaran terhadap perintah pemimpin adalah sebuah kesalahan fatal yang tidak boleh terjadi, apalagi dalam kondisi genting seperti perang. Kini, jumlah itu menyusut dengan jumlah yang semakin ramping.

Ujian dan seleksi masih belum selesai, tatkala melihat realita di medan perang tak seperti yang mereka bayangkan. Ternyata jumlah musuh sangatlah besar dengan persenjataan lebih lengkap. Ciut sudah nyali mereka. Mereka seakan-akan melihat maut akan menyongsong mereka hari itu. Sebagian dari mereka berkata : “ Tiadalah kesanggupan kami pada hari ini untuk melawan Jalut dan tentaranya”. Mental mereka keburu jatuh sebelum berperang. Padahal Allah telah menjanjikan kemenangan untuk mereka bila mereka taat kepada Allah dan Nabi-Nya.

Ujian demi ujian datang silih berganti, menguji komitmen dan ketaatan mereka terhadap kebenaran. Ujian ibarat saringan, yang akan menyaring kualitas setiap orang yang melewatinya. Dan ternyata benar, sampai bertemunya dua pasukan, jumlah tentara Thalut tinggal sedikit. Sisa yang sedikit itulah yang benar-benar lulus dalam ujian ksatriaan. Mereka itulah yang benar-benar siap bertempur, yang selanjutnya terhimpun menjadi satu kekuatan kecil dengan kualitas yang setara dengan pasukan besar.

Kelompok itu adalah kelompok orang-orang yang beriman. Mereka senantiasa bersabar dalam berjuang dan selalu tabah dalam menghadapi tekanan, godaan dan pengaruh-pengaruh negatif dari teman maupun lawan. Mereka adalah kelompok yang tidak membangkang perintah pemimpin mereka, karena mereka sangat memahami urgensi ketaatan. Mereka percaya kemenangan bukanlah masalah jumlah, tapi bobot. Sedemikian tsiqohnya mereka, sehingga ketika yang lain mulai luluh, mereka justru semakin teguh. Dengan tegarnya berucap : “ berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang besar bila Allah mengizinkan.”

Diriwayatkan dari as-Sudi, jumlah tentara Thalut kala itu kurang lebih mencapai 80.000 pasukan. Namun setelah melewati sungai, jumlah itu berkurang menjadi tidak lebih dari 310 prajurit saja. Sedangkan menurut Bukhari dari riwayat Bara’ bin Azib radhiyallahu anhu, pasukan itu sekitar 317-an saja.

********

Menang dan kalah bukanlah masalah kuantitas atau fasilitas, tapi kualitas. Satu orang yang berkualitas dapat saja melakukan sesuatu yang seharusnya dilakukan sepuluh orang. Bahkan ada seseorang yang keberadaannya menyamai kualitas seratus orang, bahkan seribu orang, bahkan lebih. Efesiensi yang dipadankan dengan kualitas menghasilkan sebuah hasil yang maksimal dengan modal yang minimal.

Perjuangan Islam pada mulanya adalah perjuangan yang sangat berat, penuh onak dan duri, cobaan dan rintangan. Dakwah yang dilakukan Nabi pada periode Mekkah hanya sanggup menggaet orang dalam jumlah yang terbilang kecil. Pertama-tama Isteri beliau, Khadijah, kemudian shahabat karib beliau, Abu Bakar dan anak paman beliau, Ali bin Abi Thalib. Setelah itu berturut-turut Utsman bin Affan, Thalhah bin Ubaidillah, Sa’ad bin Abi Waqqash, Abdurrahman bin Auf, Zubair bin Awwam dan Bilal bin Rabah.

Jumlah yang sedikit itu bukanlah kacang kulit tanpa isi. Kualitas mereka benar-benar diatas rata-rata. Ujian dan cobaan yang mereka terima tidak menjadikan mereka kendor, malah semakin membuat mereka teguh memegang Islam. Ibarat paku yang terus menerus dihantam palu godam, akan semakin kuat menancap. Mereka mempertaruhkan semua yang mereka miliki, harta benda, jiwa dan raga mereka. Ada yang dipakaikan kepadanya baju besi dan kemudian dilemparkan ke padang pasir yang membara. Ada yang dihimpit batu besar di bawah terik matahari diatas hamparan pasir Mekkah. Dan masih ada yang lebih keras dari itu. Kekerasan fisik adalah harga yang harus mereka tebus begitu kalimat tauhid “ la ilaha illa allah Muhammad rasulullah” mereka ucapkan.

Ketika perintah hijrah turun, tidak ada pertanyaan : bagaimana harta benda saya? Bagaimana ladang dan kebun saya? Bagaimana nanti hidup saya? Yang ada hanyalah ucapan “ sam’an wa tho’atan”, kami mendengar dan kami ta’at. Keberkahan hidup ada pada keta’an pada Allah dan Rasul-Nya. Begitulah keyakinan mereka.

Satu hal lagi yang menambah militansi dan soliditas mereka, yaitu mereka sama sekali tidak pernah diming-imingi harta dan kekuasaan atau kenikmatan dunia lainnya. Dorongan untuk memeluk Islam dan memperjuangkannya adalah murni karena panggilan keimanan dan mencari ridha Allah. Karenanya, mereka sangat solid, militan dan berwibawa. Berbagai macam dorongan nafsu dan syahwat dunia tidak dapat menggoyahkan keimanan di hati mereka, karena dunia sudah begitu tunduk ditangan-tangan mereka, sedang akhirat senantiasa bersemayam di hati-hati mereka.

Jalan dakwah bukanlah jalan tanpa hambatan. Ia sarat onak dan duri, aral yang melintang dan cobaan yang menghadang. Mereka yang memilih jalan dakwah adalah mereka yang memilih bersinggungan dengan resiko dan fitnah dunia. Komitmen untuk eksis bukanlah ucapan tanpa konsekuensi. Ada harga yang harus ditebus. Bukan saja kehilangan harta benda dan keluarga, bahkan jiwa dan raga. Dan para shahabat telah lulus dari itu semua. Mereka tahu, pengorbanan mereka di jalan dakwah tak akan hilang sia-sia.

Pengusung panji-panji Islam yang menempati garda depan bukanlah jumlah yang mayoritas, melainkan minoritas. Karena kualitas unggulan itu biasanya hanya ada pada segelintir orang saja, bukan pada kebanyakan orang. Dan semua orang punya kesempatan yang sama untuk menjadi bagian dari sekelompok kecil tersebut. Masalahnya sekarang ada pada tekad dan kemauan. Allah mengisyaratkan kecilnya golongan itu diantara jumlah yang mayoritas, dalam surat Ali Imran ayat : 104 :

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung”. (QS. Ali Imran ayat : 104).

Kisah Thalut dan Bani Israel diatas adalah pelajaran untuk umat ini agar mereka sadar bahwa faktor kemenangan bukan melulu pada urusan bilangan dan hitung-hitungan. Dibalik itu semua ada faktor non-teknis yang juga sangat berpengaruh, yaitu faktor ketuhanan. Usaha untuk tetap berada dalam koridor ketaatan amatlah urgen dalam pencapaian sebuah kemenangan. Kisah ini diturunkan kepada Nabi shallallahu alaihi wa sallam agar para shahabat khususnya dan umat islam pada umumnya mampu mengambil pelajaran bahwa mendiskusikan dan menawar-nawar kembali titah Allah dan Rasul-Nya adalah sebuah kesalahan fatal yang tidak seyogyanya dilakukan oleh seorang hamba.*

Selengkapnya...

Rabu, 19 Mei 2010

Suara Langit


Dan Siapakah yang lebih baik perkataannya dari pada orang yang menyeru kepada Allah, Ber amal sholeh, seraya berkata ' Sesunguhnya aku termasuk kaum Muslimin ( yang berserah diri kepada Allah ) Tidaklah sama antara kebaikan dan kejahatan. Tolaklah kejahatan itu dengan cara yang lebih baik, maka tiba - tiba orang yang diantara kamu dan dia ada permusuhan seolah - olah telah menjadi teman setia
( QS . Fushshilat : 33 - 34 )
" Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai ilmu tentangnya.sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan dipertanggungjawabkan" ( QS. Al - Isra : 36 )
" Dan Sesungguhnya telah kami mudahkan Al - Qur'an untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran ?" ( QS. Al - Qamar : 17, 22, 32, 40 ).
' Maka Ni' mat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan ? (QS. Ar- Rahman : 13,16,18,21,23,25,..)


" Wahai ali, Sungguh, Sekirannya Allah memberi hidayah seseorang karena dakwahmu, itu lebih baik bagimu dari pada unta merah ( HR. Bukhari dan Muslim ).
" Barang siapa menyembunyikan ilmu, maka pada hari kiamat nanti Allah SWT akan membelenggunya dengan belenggu dari api neraka ( HR. Abu Dawud dan At - Tirmidzi ).
"Sesungguhnya yan paling aku takutkan terhadap kalian sepeninggalku adalah jika bunga- bunga dunia dan hiasannya di bukakan buat kalian ( HR. AL- Bukhari dan Muslim ).
" Demi Allah, bukan kemiskinan yang aku takutkan atas kaliann tetapi aku takut jika dunia telah dibentangkan di hadapan kalian sebagaimana di bentangkan di hadapan umat - umat sebelum kalian, lalu kalian saling berebut sebagaimana mereka dahulu saling berebut, lalu kalian binasa sebagaimana mereka dahulu binasa. " ( HR. Al- Bukhari dan Muslim ).


Von Kremer, Sebagai mana di kutip oleh Thomas W. Arnold, menulis dengan penuh decak kekaguman.

"Adalah menjadi keinginan Muhammad membangun suatu agama baru, dan ia telah mencapai hasil gemilang, tetapi pada waktu yang bersamaan dia membangun pula sistem politik yang sama sekali bercorak baru. Bahkan sebelum wafatnya, hampir seluruh arabia telah takluk di bawah pengaruhnya.Arabia yang sebelumnya belum pernah tunduk pada seorang pemimpin, tiba - tiba membentuk suatu ikatan politik dan setia pada perintah pemimpin yang absolut, dari kabilah - kabilah yang banyak, besar dan kecil, saling bermusuhan , dibawah Muhammad menjelma menjadi suatu bangsa.
Idea tentang kesatuan agama umum di bawah satu pimpinan telah menghimpun berbagai kabilah ke dalam satu organisasi politik yang memperkembangkan wataknya yang khas dalam tempo yang sesingkat - singkatnya.

Generasi penerus Muhammad telah berhasil menambah deretan prestasi ekspansi ke kalangan bangsa - bangsa asia barat yang semula kristen, ke kalangan bangsa afrika dan spanyol yang semula juga beragama kristen. Dan demikian pula, akhirnya Islam menyebar di Persia, Asia tengah, Mongol, India, China, bahkan pada gilirannya di malasyia dan Indonesia. Saat ini Islam telah merambah ke segenap penjuru dunia." ( Von Kremer )
Selengkapnya...

Selasa, 02 Maret 2010

Bertanya Tentang Cinta

Aku bertanya pada alam semesta tentang arti “CINTA”, lalu satu demi satu mereka menjawab…

Bumi menjawab:
“CINTA adalah hamparan tempat tumbuh segala bahagia dan harapan akan itu. Ia memang diinjak dan dihinakan, tetapi ia tak peduli. Pikir Cinta hanya memberi, dan itu sajalah inginnya.”

Air menjawab:
“CINTA adalah hujan yang menumbuhkan benih-benih rasa kesukaan, kerelaan akan keterikatan, kerinduan dan kesenduan, atau samudera kasih yang luas sebagai naungan segala perasaan

Api menjawab:
“CINTA adalah panas yang membakar segala, ia memusnahkan untuk dapat hidup dan menyala. Demi merasakannya, makhluk rela terbakar dalam amarah dan kedurhakaan.”

Angin menjawab:
“CINTA adalah hembusan yang menebar sayang tanpa tahu siapa tujuannya. Orang bilang ia buta, sebab itu inginnya. Ia tak terlihat, tapi tanpanya segala raga akan hampa.”

Langit menjawab:
“CINTA adalah luasan tanpa batas. Luasnya tiada makhluk yang tahu. Kecuali bahwa cinta itu bahagia yang biru, atau derita kelam yang kelabu

Matahari menjawab:
“CINTA adalah hidup untuk memberi energi kehidupan dan cahaya harapan. Ia tak akan lelah memberi sampai ia padam dan mati.”

Pohon menjawab:
“CINTA adalah akar yang menopang segalanya. Ia tulus hingga tak perlu terlihat dan dikenal. Tapi ia terus memberi agar batang bahagia tetap kokoh abadi, berbuah dan berbunga indah.”

Gunung menjawab:
“CINTA adalah rasa yang menjulang tinggi. Rasa itu demikian tenang dan menyejukkan. Namun saat gundah, Ia akan meleburkan sekelilingnya dengan lautan lava cemburu yang membara.”

Lalu, Aku bertanya pada CINTA:
“Wahai CINTA, apakah sebenarnya arti dirimu??”

CINTA menjawab:
“CINTA adalah engkau patuh terhadap-Nya, meski kau tak melihat-Nya. Engkau tidak mencium-Nya atau meraba-Nya, tapi engkau patuh karena engkau merasa akan hadir-Nya. Sebab CINTA bukan indera, tapi adalah rasa.”

“CINTA adalah engkau takut akan amarah-Nya, dan takut jika Ia meninggalkanmu. Takut jika Ia tak menyukaimu lagi. Lalu engkau mencari-cari alasan untuk selalu dekat dengannya, bahkan jika engkau harus menderita, atau yang lebih mengerikan dari itu.”

“CINTA adalah engkau menyimpan segala harapan pada-Nya dan tidak pada yang lain. Engkau tidak mendua dalam harapan, dan demikian selamanya. Cinta adalah engkau setia menjadi budak-Nya, yang engkau hidup untuk-Nya dan mati untuk kesukaan-Nya akan dirimu, hidup dan mati untuk Dia. Engkau berusaha sekerasnya agar engkau diakui, hanya sebagai budak, sebagai hamba.”

“Diatas segalanya, CINTA adalah engkau merasa kasih sayang yang tunggal yang tidak engkau berikan pada yang lain, selain pada-Nya. Engkau rindu akan hadir-Nya dan melihat-Nya. Engkau suka apa yang Ia sukai dan benci apa yang Ia benci, engkau merasakan segala ada pada-Nya dan segala atas nama-Nya.”

Aku lantas bertanya pada CINTA:
“Bisakah aku merasakannya?”

Sambil berlalu CINTA menjawab:
“Selama engkau mengetahui hakikat penciptaanmu dan bersyukur dengan apa yang Dia beri, maka itu semua akan kau rasakan, percayalah padaku tambahnya….”

Aku pun Berteriak, “Wahai KAU SANG MAHA PECINTA terimalah cintaku yang sederhana ini, izinkanlah aku merasakan cintaMu yang Maha Indah…”

Selengkapnya...