Senin, 28 Agustus 2017
TAK ADA YANG ANGKAT TANGAN!!!
Tulisan, Prof. Dr. Bj. Habibie. Kismadi
Rabu, 23 Agustus 2017
Rizki-ku ada di langit, bukan di tempat kerja.!
Kisah Maulid di Libanon
Selasa, 22 Agustus 2017
🚿CARA MANDI RASULULLAH SAW
Minggu, 20 Agustus 2017
TAHUKAH KITA? (Mbak wastiti WA)
Kamis, 03 Agustus 2017
💠🌺💠 KENAPA WANITA BANYAK MASUK NERAKA❓
وَرَأَيْتُ النَّارَ فَلَمْ أَرَ كَالْيَوْمِ مَنْظَرًا قَطُّ وَرَأَيْتُ أَكْثَرَ أَهْلِهَا النِّسَاءَ. قَالُوا: لِمَ يَا رَسُوْلَ اللهِ؟ قَالَ: بِكُفْرِهِنَّ. قِيْلَ: يَكْفُرْنَ بِاللهِ؟ قَالَ: يَكْفُرْنَ الْعَشِيْرَ وَيَكْفُرْنَ اْلإِحْسَانَ، لَوْ أَحْسَنْتَ إِلىَ إِحْدَاهُنَّ الدَّهْرَ، ثُمَّ رَأَتْ مِنْكَ شَيْئًا قَالَتْ: مَا رَأَيْتُ مِنْكَ خَيْرًا قَطُّ
“Dan aku melihat neraka. Aku belum pernah sama sekali melihat pemandangan seperti hari ini. Dan aku lihat ternyata mayoritas penghuninya adalah para wanita.” Mereka bertanya, “Kenapa para wanita menjadi mayoritas penghuni neraka, ya Rasulullah?” Beliau menjawab, “Disebabkan kekufuran mereka.” Ada yang bertanya kepada beliau, “Apakah para wanita itu kufur kepada Allah?” Beliau menjawab, “(Tidak, melainkan) mereka kufur kepada suami dan mengkufuri kebaikan (suami). Seandainya engkau berbuat baik kepada salah seorang istri kalian pada suatu waktu, kemudian suatu saat ia melihat darimu ada sesuatu (yang tidak berkenan di hatinya) niscaya ia akan berkata, ‘Aku sama sekali belum pernah melihat kebaikan darimu’.
” 📚 (HR. Bukhari no. 5197 dan Muslim no. 907). ➡ Yang dimaksud kufur dalam hadits bukanlah maksudnya keluar dari Islam. Namun yang dimaksud adalah kufronul huquq, yaitu istri tidak mau memenuhi kewajiban terhadap suami. Jadi maksudnya bukanlah kufur terhadap Allah. Ini menunjukkan celaan bagi wanita yang dimaksud dalam hadits. Lihat Syarh Shahih Muslim, 6: 192.
✅ Jadi, maksud hadits adalah celaan untuk wanita yang tidak mau bersyukur pada pemberian suami. Bahkan ini yang jadi sifat wanita, jika ia tidak diberi sekali padahal sudah sering keinginannya dipenuhi oleh suami, maka ia akan menggelari suaminya dengan gelarang suami yang pelit. Wanita itu berkata, “Aku sama sekali belum pernah melihat kebaikan darimu.” Hujan setahun benar-benar tidak teranggap dikarenakan adanya kemarau sehari.
🌺 Adapun wanita shalihah yang taat pada suami dan rajin melakukan ibadah ketaatan, tentu akan dibalas dengan pahala melimpah. Keutamaannya disebutkan dalam hadits berikut. إِذَا صَلَّتِ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا وَصَامَتْ شَهْرَهَا وَحَفِظَتْ فَرْجَهَا وَأَطَاعَتْ زَوْجَهَا قِيلَ لَهَا ادْخُلِى الْجَنَّةَ مِنْ أَىِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شِئْتِ
“Jika seorang wanita selalu menjaga shalat lima waktu, juga berpuasa sebulan (di bulan Ramadhan), serta betul-betul menjaga kemaluannya (dari perbuatan zina) dan benar-benar taat pada suaminya, maka dikatakan pada wanita yang memiliki sifat mulia ini, “Masuklah dalam surga melalui pintu mana saja yang engkau suka.” (HR. Ahmad 1: 191 dan Ibnu Hibban 9: 471. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini shahih).
Kami turut mendoakan, جعلنا اللهُ و السائلةَ من أهل الجنّة ، و ختم لنا بالحسنى . آمين . “Moga Allah menjadikan kita jalan menjadi ahli surga dan diberikan akhir hidup yang baik. Aamiin.”
💠🌺💠 TAHUKAH ANDA...❓
Amin, Aamin, Amiin, Aamiin, Ataukah Amien⁉
⛔ BANYAK orang yang salah dalam penulisan kata ini.
Ada yang menulis amin, aamin, amiin, atau mungkin amien.
✅ Berikut penjelasannya dalam Bahasa Arab, ada 4 perbedaan kata ini, yaitu:
1⃣ Amin (alif dan mim pendek) artinya : aman,tentram.
2⃣ Aamin (alif panjang dan mim pendek) artinya : meminta perlindungan keamanan.
3⃣ Amiin (alif pendek dan mim panjang) artinya : jujur terpercaya.
4⃣ Aamiin (alif dan mim panjang) artinya : ya Allah kabulkanlah do’aku.
Bagaimana dengan amien❓
➡ Sebisa mungkin hindari atau jangan pernah menulis dengan kata amien. Karena kata amien di ucapkan oleh penyembah berhala.
✅ Jadi, penulisan yang benar adalah aamiin (ya Allah kabulkanlah doa’ku).
Selengkapnya...
Senin, 31 Juli 2017
🌹 ANUGRAH TERINDAH 🌹
RUGINYA ORANG BERSELISIH
TIPS CUCI GINJAL ALAMIAH
Pentingnya HIDAYAH
Ketika Islam Berjaya
Rabu, 26 Juli 2017
Halal Bi Halal
Selasa, 13 Juni 2017
Ku titipkan cintaku padaNya
Ku titipkan cintaku padaNya Kring…kring..kring, bunyi handpone diatas kasur menghentikan jari-jemariku yang tengah asyik mengetik di komputer. “Widya” nama yang tertera dilayar Hp ku, aku langsung mengangkatnya. “Kiyaaa !!” belum sempat aku bilang salam, Widya sudah berteriak diujung sana. Aku terpekik kaget mendengar teriakan cemprengnya. Kujauhkan sedikit handponeku dari telinga. “ Assalamu’alaikum, Bukannya salam malah teriak-teriak” gerutuku kesal “Wa’alaikumussalam, maaf Ki aku lupa saking senengnya. Ada kabar gembira untukmu dan kamu pasti sangat senang mendengarnya” seru Widya diujung telepon sana. “Daffa Amrullah, penulis kesayanganmu itu minggu depan akan hadir di kampus kita” lanjutnya dengan teriakan yang lebih kencang lagi. Aku berjengit kaget mendengar teriakannya sekaligus senang mendengar kabarnya. “Serius? Kamu dapat info darimana Wid?” tanyaku penasaran. “ Dari anak-anak sastra. Tadi mereka nempelin poster acara tahunan mereka. salah satu acaranya ada bedah buku. Dan buku yang dibedahnya adalah buku “Ku Titip Cintaku Pada-Nya” karya Daffa Amrullah” jelasnya dengan antusias. “wah Alhamdulillah. Ini gak boleh ketinggalan, akhirnya bisa ketemu sama penulisnya langsung” kini giliran aku yang berteriak senang. “ Oke nanti kita beli tiketnya. Ya sudah sampai jumpa besok Ki. Assalamu’alikum” “Wa’alaikumussalam”jawabku menutup telepon. Aku tersenyum sendiri membayangkan acara minggu depan. Betapa tidak, Aku akan bertemu penulis kesayanganku. Sedang senang-senangnya membayangkan acara nanti, tiba-tiba Aku teringat sesuatu yang menguapkan rasa senangku, tugas deadlineku malam ini belum selesai. *** Namaku Zakiya Althafunnisa. Mahasiswi tingkat akhir yang sedang bergelut dengan skripsi yang minta untuk cepat diselesaikan. Aku sangat menyukai sastra, terutama Novel. Salah satu penulis yang aku kagumi adalah Daffa Amrullah. Entah sejak kapan aku begitu terpesona dengan penulis muda satu ini. Padahal usianya 2 tahun lebih muda dariku. Tapi karyanya membuat Aku sampai mengoleksi semua bukunya. Tiap untaian kata yang ia tulis di bukunya selalu membuatku berdecak kagum. Terutama novel yang berjudul “Ku Titip Cintaku Pada-Nya” mengingatkanku pada kejadian 8 tahun yang lalu. Seolah-olah Aku sedang membaca kisahku sendiri ketika Aku masih duduk dikelas dua SMA. Aku selalu bersembunyi ketika sosoknya muncul. Hampir selalu tak bisa bernapas dengan nyaman. Aku tak pernah sepakat untuk tersenyum setiap kali harus berpapasan dengannya. Kejadian ini bermula ketika MOS. Kebetulan Aku dipercaya untuk ikut membimbing murid baru karena dianggap sebagai salah satu murid yang berprestasi. Pagi itu Aku dan dua temanku sedang memberikan motivasi tentang prestasi di hadapan seluruh murid baru. Di akhir ada sesi tanya jawab. Namun, dari situlah peristiwa yang tak pernah kubayangkan terjadi. Yang bahkan cleaning service sekolah pun diam-diam tahu persis bagaimana jalan ceritanya. “Perkenalkan nama saya Muhammad Zaky, panggilannya Zaky. Ingin bertanya khusus untuk kakak yang namanya kembar dengan saya” Deg! Mata siswa yang mengaku bernama Zaky itu bertubruk dengan pandanganku. Ia tersenyum tipis dan membuat seisi ruangan geger. Aku mengangguk karena tahu siapa yang ia maksudkan. Sorak sorai tengil yang ditenggarai teman-temanku membuatku sedikit risih. “Tolong kak Zakiya sebagai salah satu murid yang berprestasi di sekolah ini menjelaskan sedikit mengenai hubungan prestasi yang kakak dapatkan dengan amal ibadah yang selama ini kakak jalankan”. Shock question? Rupanya cukup pintar juga dia, pikirku “Prestasi yang kudapatkan bukanlah prestasi jika tanpa amalan. Tentu saja dari awal usahaku selalu diiringi dengan doa. Percuma jika pintar akademik tapi tidak pintar urusan rohani. Padahal sudah jelas prioritas utama kita di dunia adalah untuk mempelajari ilmu akhirat, barulah setelah itu ilmu dunia. Makanya urusan dunia sama sekali tidak bisa dipisahkan dengan urusan agama. Semua amalan yang dilakukan haruslah berdasar pada syariat agama terlebih dahulu, barulah didasarkan pada ilmu dunia” “Contohnya?” Zaky sepertinya tak puas dengan jawabanku. “Contohnya saja kalau kita pintar memasak. Semua masakan nusantara hampir kita kuasai. Dan kita tahu ada beberapa masakan yang akan lebih enak jika dicampur dengan olahan daging Babi. Namun karena kita tahu syariat agama mengharamkan Babi sebagai bahan makanan, maka walaupun kita tahu resep yang akan membuat makanan itu enak, kita akan tetap menghindarinya. Seperti itulah implikasi amal yang kita dahulukan.” Zaky tersenyum dengan senyuman merekah. Ia bertepuk tangan dan membuat seisi ruangan mengikutinya. “Aku tahu kakak akan menjawab dengan cerdas. Aku suka jawaban kakak. Sekarang aku baru percaya bahwa tidak semua orang cerdas, melalaikan ilmu rohaninya. Aku menyukaimu kak Z-A-K-I-y-a” ucapnya dengan penuh penekanan dalam mengucapkan namaku. Sorak sorai terdengar menggema kencang setelah Zaky mengakhiri perkataannya. Aku maju kedepan dan berusaha mengondusifkan suasana ruangan dengan sedikit menggedor meja depan. “Dengar kalian semua, terutama kamu Zaky. Jangan bertindak tidak sopan terhadap kakak kelas. Aku bukan bahan candaan. Dan saya tidak suka dicandai seperti itu. Paham?” mataku melotot tajam dan berhasil membuat seisi ruangan terdiam. Zaky tiba-tiba berdiri dari bangkunya. “Tapi aku tidak bercanda kak Zakiya, aku serius saat mengatakan aku menyukai kakak” Aku tidak mengerti lagi dengan pemuda ini. Berulangkali aku mengatur napas agar emosiku tak meledak, tapi ia berhasil memancingnya. “Dengar dan perhatikan adik kelasku Zaky. Kamu ini masih kecil. Baru lulusan SMP. Berkata-kata tanpa berfikir mungkin masih jadi ciri khasmu. Tapi mulai sekarang berhentilah karena kamu sudah menginjak SMA. Dan ingat dalam kamus besarku tidak ada yang namanya suka menyukai. Kalau mau seperti itu ya lebih baik menikah saja. Mengerti?” Zaky tertawa kecil. Keningku berkerut tidak mengerti kenapa ada anak seberani dia “Yah kakak, aku jadi makin suka sama kakak kan. Memang benar pacaran itu riskan dengan zina. Maka izinkanlah saya untuk meminang kakak 8 tahun kedepan setelah saya lulus kuliah dan mendapat pekerjaan”. Sial pemuda ini sudah kelewat batas. Benar-benar tak tahu sopan santun. “Sudah kubilang kan aku tidak suka lelucon semacam ini. Dan asal kamu tahu, tidak ada yang bisa mendahului kehendak Allah masalah jodoh. Berani sekali kamu berkata ingin meminang dan obral janji kosong. Jangan pernah mengucapkan kata-kata yang memuakkan. Ini peringatan terakhir” semua orang shock mendengarku mengeluarkan sumpah serapah. Aku sendiri hampir tersedak karena berkata kasar dan menghinakan seperti itu. Sesaat kemudian, Aku keluar dari pintu dan tidak mau mengurusi kelas menjengkelkan itu lagi. Bahkan setelah Aku terang-terangan mendamprat Zaky saat MOS, laki-laki itu tetap saja berani menyapaku, bertingkah manis ketika bertemu. Hingga tahun berikutnya dia tak lagi menggangguku. Kabar yang kudengar adalah dia pindah rumah ikut keluarganya. Sampai saat ini Aku tak pernah lagi mendengar kabarnya. Entahlah bagaimana kehidupan dia selanjutnya Aku tak tahu. Terkadang terbersit harapan agar sosok seorang Daffa menjadi pendampingku kelak. Namun, segera kutepis harapan itu. Aku tak boleh membiarkan angan itu berkembang menjadi rasa yang tak wajar. Dan sepertinya harapan itu tak akan terwujud, karena tadi malam Ayah menawarkanku seorang lelaki yang kemarin datang untuk bersilaturahmi dan mengajakku ta’aruf. Aku sudah beralasan bahwa Aku ingin menyelesaikan kuliahku dulu. Namun, ayah bilang itu bukan jadi masalah. Melihat sorot mata mereka yang penuh harapan, terlebih merasakan kelembutan tangan Ibu yang selalu membelaiku, Aku tak mampu melukai hati mereka. Aku tak ingin mengecewakannya, sungguh Aku tak ingin mematahkan harapan mereka. melihatku hanya tertunduk diam, Ibu membelaiku dan berkata “Putriku, Ayah dan Ibu tidak pernah memaksamu untuk menerima ini semua, tapi percayalah karena kasih sayang kami, kami hanya ingin yang terbaik untukmu. Insya allah dia calon imam yang baik dan bertanggung jawab untukmu. Pikirkan baik-baik ya sayang” Aku hanya mengangguk dan pamit untuk masuk ke kamar. Setelah 3 hari lamanya berfikir dan bermunajat kepada Allah akhirnya pagi itu Aku memutuskan untuk bicara kepada Ayah dan Ibu. Bismillah, ucapku dalam hati. “Ayah Ibu, jika memang menurut Ayah dan Ibu dia seorang laki-laki yang baik, muslim yang taat, dan bisa menjadi imam yang baik dalam rumah tanggaku kelak. Aku tak mungkin sanggup menolaknya” “Alhamdulillah” ucap Ayah dan Ibu serentak lega. ”kalau begitu besok Ayah akan menyuruh dia dan keluarganya datang untuk melamarmu. Kalau cocok langsung tentukan hari pernikahan kalian” lanjut Ayah. Karena Aku takut akan ragu saat melihatnya, biarkan Aku melihat calon suamiku nanti setelah akad. Setelah ia halal untukku. “Tidak Ayah. jika memang ia berniat untuk menikahiku, lusa kita adakan pernikahannya dan kenalkan Aku dengannya setelah akad nanti. Aku percaya pilihan Ayah dan Ibu pasti yang terbaik untukku” pintaku Walaupun awalnya Ayah dan Ibu ragu dengan permintaanku, namun akhirnya mereka pun menyetujuinya. Akhirnya hari pernikahan itu telah tiba, semua tamu sudah mulai berdatangan. Bahkan calon pengantin laki-laki sudah tiba dan memasuki mesjid tempat ijab qobul. Sementara Aku duduk didepan cermin menunggu ijab qobul itu di bacakan dengan perasaan bercampur aduk. Terdengar sayup-sayup suara ijab qobul itu. “Dengan ini saya Muhammad Zaky Daffa Amrullah, saya terima nikahnya dan kawinnya Zakiya Althafunnisa binti Abdullah dengan mas kawin tersebut tunai” Subhanallah, Kini Aku sudah menjadi isteri orang yang belum pernah aku mengenalnya. Tak terasa air mataku mengalir. Namun, tiba-tiba Aku terfikirkan sesuatu. Sepertinya nama suamiku itu tidak asing ditelinga. Nama panjangnya sama dengan penulis idamanku itu. “Ah sudahlah, mungkin hanya kebetulan sama” pikirku. Tak lama Ibu masuk kamar dan membawaku keluar menuju mesjid untuk bertemu dengan suamiku. Dengan perasaan tak menentu, jantung berdetak tak beraturan. Sungguh Aku tak mampu menatap wajahnya. Ayah menyuruhku untuk bersalaman dan mencium tangan suamiku. Namun Aku belum mampu menatap wajahnya. Lalu suamiku mengangkat daguku dengan lembut. Dengan hati bergetar perlahan Aku menatap wajahnya. “Kak Zakiya, seperti janjiku padamu dulu aku kembali setelah 8 tahun Aku Titip Cintaku Pada-Nya.” ujarnya lembut dengan senyum yang menawan. Aku terkejut tak percaya. Bagaimana bisa ternyata Ayah telah menjodohkanku dengan Muhammad Zaky, bocah kecil yang dulu begitu tekad ingin menikahiku. Dan yang berdiri dihadapanku kini telah sah menjadi suamiku adalah seorang penulis yang menjadi idolaku, Daffa Amrullah. “Kau? eh..em maksudnya? bukankah kamu Daffa Amrullah yang penulis itu?” tanyaku bengong tak percaya dengan penglihatanku sendiri. “Ya. Aku Muhammad Zaky, laki-laki yang 8 tahun lalu berjanji akan menikahimu dan aku juga Daffa Amrullah. Apakah kau benar-benar tak mengenaliku?” tanyanya dengan tersenyum merekah. Aku terperanjat, antara tak percaya bercampur bahagia. Aku menggelengkan kepala tersenyum malu. Aku sama sekali tak pernah memperhatikan secara seksama wajahnya, dan tak pernah menyangka. “ta..tapi bagaimana bisa? Darimana kamu bisa tahu bahwa ini adalah aku Zakiya yang dulu?” tanyaku semakin penasaran. “Aku sudah tahu semua tentang dirimu dengan bantuan ayahmu, karena beliau teman baik ayahku. Dan aku tidak menyangka pernikahan kita akan secepat ini. Padahal aku akan memberikan kejutan setelah acara bedah buku di kampusmu nanti” ucapnya seraya menggenggam tanganku dengan lembut dan senyuman yang tak pernah lepas dari bibirnya. Aku hanya terpaku tak mampu berkata apa-apa. Sungguh ini suatu anugerah terindah untukku. Terima kasih Allah pkdringo,gemahripah Sumber: http://www.dakwatuna.com/2017/01/30/85270/kutitip-cintaku-nya/#ixzz4jwcvwwd2 Follow us: @dakwatuna on Twitter | dakwatunacom on Facebook Selengkapnya...
Kamis, 23 Juli 2015
dakwatuna.com – Pasangan suami istri yang dikaruniai buah hati, lantas mengaku-ngaku telah menjadi orang tua sesungguhnya tengah terjerembab ke dalam satu dari sekian banyak kesalahan yang sering diperbuat orang kebanyakan. Ibarat seorang bocah ingusan yang hanya karena telah memegang bola lantas mengaku-ngaku sebagai pesepakbola kenamaan, padahal bukan bola yang menjadikan ia pesepakbola, keberadaan ayah dan ibu serta anak sekalipun tak lantas menjadikannya sebagai keluarga. Sebuah gelar dan posisi selalu menghadirkan konsekuensi, tanggung jawab menyertai, proses harus dilewati, mesti siap dievaluasi, bahkan hingga setelah mati di akhirat nanti. Orang tua ialah posisi yang mulia, gelar yang tak sembarang orang memakainya, orang pilihan yang diamanahi titipan, anak yang harus dididik dan dibesarkan, tak sekadar diberi makan atau jajan, tetapi mesti dicurahi cinta dan dibaluti sayang. Allah mengamanahkan anak sebagai titipan, jangan sampai dititipkan lagi, karena tak mungkin Allah salah menitip, jangan khianati amanah meski susah payah. Banyak pribadi yang kesepian, mereka merasa sendiri dalam kebersamaan, ada atau tiadanya keluarga tak bisa dibedakan, jasad dan pikiran telah berada di tempat yang berlainan, dikerubuti kebingungan dan diselimuti kehampaan. Dokter yang malpractice hanya dapat menghilangkan nyawa pasien, arsitek yang malpractice hanya dapat meruntuhkan bangunan yang didesain, namun orang tua yang malpractice akan membuat anak-anak dan beberapa generasi manusia setelahnya hidup menjadi alien, tak tahu bagaimana hidup dan merasa selayaknya manusia, beberapa bagian nurani mungkin mati hingga mereka tak tahu cara memuliakan pribadi, beberapa bagian akal pikiran mungkin teracuni hingga mereka berbuat banyak kerusakan di muka bumi. Mereka yang hidup terlunta-lunta dan menginginkan cinta namun belum bisa meraihnya. Pribadi-pribadi yang kelaparan cinta, ayah yang mengharap cinta istri dan anaknya, ibu yang mengharap cinta suami dan anaknya, anak yang mengharap cinta ayah ibunya. Cinta, sepanjang sejarah manusia senantiasa berada di peringkat pertama sebagai rasa yang paling ingin dimiliki manusia yang dengan memilikinya manusia berharap bahagia. Banyak pribadi yang kaya harta namun miskin kata-kata, mengaku-ngaku orang tua namun nyata-nyata hanya berfungsi layaknya ATM bersama, didekati saat ada yang diingini, dijauhi ketika tiada lagi mampu memberi. Mereka miskin kreativitas, tak mampu memperlakukan keluarga dengan pantas, tak berkomunikasi sering dijadikan jalan pintas, cari aman meski hubungan menjadi tak berkualitas. Mengaku-ngaku orang tua akan tetapi buta akan cinta, anak-anak dibiarkan tumbuh dan berkembang tanpa rasa sayang. Wahai ayah wahai ibu, tak cukup hanya didoakan, anak-anak butuh kecupan penuh kehangatan, butuh dikayakan dengan penghargaan, bukan direndahkan melalui meja penghakiman. Anak-anak membutuhkan rasa aman dan nyaman, tak butuh ledekan atau gertakan. Lebaran kali ini mari kita kembali renungi, hak dan kewajiban apa saja yang belum dipenuhi. Tali cinta dan tali kasih yang perlu diperbaiki, jangan sampai dirusak atau diputus lagi. Tak perlu alasan untuk mencintai, tak perlu cari-cari alasan sehingga ingin membenarkan benci. Tak mencari-cari jalan untuk lari, tetapi mencari arah yang sama untuk dapat bertemu kembali. Orang tua adalah pendidik, pengapresiasi, pencinta, dan pemberi warna. Orang yang pertama kali menyatakan dukungan dan orang terakhir yang menaruh keraguan. Dan keluarga adalah tentang membicarakan hidup secara terbuka, pembicaraan yang hanya menyediakan tempat bagi kebaikan saja, tak ada cerca mewujud menjadi kata, tak ada hampa dalam tiap sorot mata, setiap anggota keluarga antusias demi hubungan yang berkualitas. Hidup berkeluarga bukan tentang berlelah-lelah mencari siapa yang salah, hidup berkeluarga adalah tentang menawarkan diri untuk menjadi bagian dari solusi, menggunakan segala daya untuk bahagia bersama. Ramadhan yang telah dijalani, menjadi sekolah yang amat berharga bagi tiap pribadi. Memaafkan bukan lagi pilihan, kebersamaan bukan lagi keterpaksaan, semua hadir karena suatu keinsafan, berharap ridha dan ampunan dari Allah Yang Maha Rahman, Yang Maha memberikan bahagia kepada manusia yang dikehendakinya. Berkeluarga membawa konsekuensi dunia akhirat, tiada yang dituju selain jalan selamat, yang mesti diawali lurusnya niat, menjadi keluarga itu lillah, tak masalah meski sampai berlelah-lelah. Dinamika kehidupan sering membuat tiap pribadi hilang kendali, Idul Fitri adalah saat yang tepat untuk kembali menetapkan visi, agar perjalanan hidup berkeluarga tak hilang arah lagi. Visi hidup keluarga Muslim ialah “Menjaga Diri dan Keluarga dari Api Neraka” (QS. At-Tahrim [66] ayat 6). Misi hidupnya adalah “Beribadah Kepada Allah Swt.” (Adz-Dzaariyaat ayat 56). Pedoman hidupnya adalah Alquran (Al-Baqarah ayat 2) dan as-Sunnah (Al-Ahzab ayat 21). Semboyannya “Lillahi Ta’ala”. Prinsipnya “Asal Allah Suka, Semua Suka-suka Allah”, karena Allah Swt. sebagai pencipta pasti memberi yang terbaik bagi hamba-Nya. Tidak ada kata “tidak peduli” dalam keluarga yang bervisi Islami. Masing-masing berbagi peran untuk saling menyelamatkan, ayah yang menunjukkan arah, ibu yang turut memandu, anak yang ikut bergerak. Tidak ada lagi kata “terpaksa”, dipaksa tidak jadi masalah, karena beberapa hal ada yang berhukum fardhu ‘ain dan fardhu kifayah, mendidik memang seni yang unik, ketegasan dan aturan memang diperlukan, dan standar yang terbaik ialah yang telah Rasulullah Saw. contohkan, kalaupun harus memukul ada standar yang harus ditaati dan tentu bukan untuk tujuan menyakiti. Jika kita mencontoh Rasulullah Saw., tak pernah kita mendapati beliau mendidik dengan caci maki atau berbicara dengan cara yang menyakiti. Rasulullah saw. selalu menghadirkan bahasa pantas dan berkualitas, meneduhkan dan mencerahkan. Orang tua jangan coba-coba menetapkan standar sendiri tanpa berpegang pada tuntunan Ilahi, kacau nantinya, rapuh pondasinya. Bawalah selalu Allah dan Rasulullah, “Nak, kata Allah…” atau “Nak, kata Rasulullah…”. Anak dan Keluarga Anak ialah pendukung utama orang tua agar bisa masuk surga, sekaligus musuh utama jika dia menjadi durhaka dan menjerumuskan orang tua ke dalam neraka. Anak tak bisa memilih untuk lahir di keluarga mana dan orang tua yang seperti apa, tetapi dengan berusaha tiap anak memiliki peluang yang sama untuk menjadi insan yang berbahagia. Ayah ibu adalah orang yang paling berhak menerima baktimu, perlakuan terbaikmu, kata-kata terindahmu, dan upaya mati-matianmu. Paling berhak atas pemaafanmu atas sedalam apapun kecewa dan rasa pedih dalam jiwa. Semua tidak mudah, tapi mari ikhlaslah. Bagi tubuh adalah nyawa yang memberi kehidupan. Jika nyawa tidak ada lagi, matilah tubuh. Bagi pribadi, ikhlaslah yang menjadi nyawanya. Pribadi yang tidak memiliki keikhlasan adalah pribadi yang mati. Meskipun dia masih bernyawa, arti hidupnya tidak ada. (Buya Hamka) Anak berbakti pastilah lebih peduli pada perbaikan keluarga dibanding mengorek-ngorek borok yang ada. Lebih senang menebar wangi dibanding menghujat dengan penuh rasa benci. Pertemuan dan kelahiran merupakan takdir yang telah Allah Swt. tetapkan, hadapi dengan penuh kesyukuran dan keikhlasan. Seraya terus berusaha dan berdoa, moga-moga Allah Swt. melimpahkan rahmat-Nya ridha-Nya serta ampunan-Nya. Menjadi berbakti adalah janji, karena cinta tak pernah dapat diterima tanpa adanya bukti. Masuk surga sekeluarga adalah cita yang sejati, usaha tanpa kenal menyerah ialah satu-satunya jalan yang harus dilewati, ikhlas dalam menjalaninya adalah harga yang tak bisa ditawar lagi. Di Idul fitri, mari jatuh cinta lagi, berkali-kali. Mari kita kekalkan cinta ini demi ridha Ilahi. Wallahu a’lam. (herlambang/dakwatuna) Selengkapnya...
Kamis, 26 Juli 2012
Memasak Dengan Limbah Tahu , Dringo,Bendung,Semin
Mereka memanfaatkan limbah tahu menjadi Biogas. Kemanapun bersembunyi di dalam rumah, Sumarni selalu terkepung bau tak sedap. Celakanya itu berlangsung hampir 24 jam selama bertahun-tahun. Bau tak sedap itu berasal dari limbah pembuatan tahu. Suami Sumarni, Amin Sugianto dan sembilan produsen lain di Dusun Dringo, Desa Bendung, Kecamatan Semin, Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta, memang membuat tahu setiap hari. Sehari menjelang hari pasaran, seorang produsen mengolah 50 kg kedelai; pada hari non pasaran, 5 kg. Dalam sepekan terdapat 2 hari pasaran. Nah, limbah pembuatan tahu itu mereka buang ke selokan selebar 100 cm dan kedalaman 1 meter. Wajar jika bau tak sedap terus menguar. Intensitas aroma tak sedap itu kian meningkat saat musim hujan. Biogas Menghadapi masalah itu warga tak berdaya. Mau protes juga tak mungkin. Sebab, para produsen itu masih kerabat atau tetangga dekat. Akhirnya selama bertahun-tahun mereka pasrah hingga pada 2007 Sumarni, Ketua UKM (Usaha Kecil Menengah) Sumber Mulyo, berembuk dengan warga lain untuk mengatasi persoalan itu. Mereka mengajukan proposal ke Dinas Pekerjaan Umum Provinsi Yogyakarta. Hasilnya adalah pemanfaatan limbah tahu itu menjadi biogas. Akhirnya, pada Oktober 2010 masyarakat Dringo dan Dinas Pekerjaan Umum Provinsi Yogyakarta didampingi lembaga Sanimas (Sanitasi Berbasis Masyarakat) bergotong-royong membangun instalasi biogas. Pembuatan instalasi itu membutuhkan waktu tiga bulan, sedangkan gas muncul tujuh bulan pasca pembangunan. Pembangunan instalasi biogas itu berefek ganda, yakni mengatasi persoalan limbah cair tahu sekaligus memenuhi kebutuhan bahan bakar rumah tangga. Limbah cair tahu mengandung bahan organik. Bakteri metanogen mengubah bahan organik itu menjadi biogas dalam fermentasi. Imam Sadzali dari Departemen Fisika Universitas Indonesia menyebutkan 100 kg kedelai menghasilkan 1,5 m³ atau 1.500 liter biogas. Jika dalam sehari perajin memproduksi tahu dari 50 kg kedelai, limbahnya menghasilkan 0,75 m³ atau 750 liter biogas. Energi biogas tergantung dari konsentrasi gas metana (CH₄). Semakin tinggi konsentrasi metana, kian besar energi. Menurut Periset di Pusat Penelitian Listrik dan Mekatronika LIPI, Bandung, Jawa Barat, Yaya Sudrajat, biogas tersusun oleh komponen seperti 40 % metana, 38 % karbondioksida, air dan sejumlah kecil gas lain seperti hidrogen sulfida. Namun, perombakan limbah tahu menjadi biogas lebih lama dibandingkan bahan lain seperti kotoran sapi. Sebab, populasi bakteri dalam limbah tahu lebih rendah. “Di tempat panas perlu sebulan untuk menghasilkan biogas dari limbah tahu”, kata Yaya. Apalagi di daerah dingin, tentu perlu waktu lebih lama. Untuk mengatasinya, Yaya menyarankan untuk menambhakan sepertiga bagian kotoran sapi sebagai pemancing. Maklum, kotoran sapi secara alami mengandung bakteri metanogen dari lambung rumen sapi. Menurut Yaya, setiap 1 m³ atau 1.000 l limbah tahu menghasilkan 1,3 m³ gas metana. Batu granit Kini setelah limbah tahu termanfaatkan menjadi biogas, aroma tak sedap pun hilang. Warga Desa Bendung menggunakan biogas limbah tahu untuk memasak. Sugianti, warga desa itu, menyalurkan limbah tahu cair ke instalasi biogas yang terpisah dari saluran limbah lain, terutama saluran limbah domestik yang kerap mengandung sabun atau detergen. Detergen atau sabun dapat membunuh bakteri metanogen sehingga mengganggu produksi biogas. Instalasi utama biogas terdiri dari bak kontrol, bak inlet, digester, bak pengendap, baffled reflector,dan filter anaerobik. Digester berbentuk kubah berdinding bata berdiameter 6 m dengan ketinggian 10 m. Kubah itulah “pabrik” biogas, tempat penguraian limbah cair menjadi metana. Untuk menghemat tempat dan melancarkan aliran limbah cair, kubah itu dibangun dibawah tanah. Di puncak kubah, terdapat lubang berdiameter 1 m sekaligus tempat kran pengatur dan pipa distribusi untuk mengalirkan gas ke rumah warga. Kran dan pipa pengatur ditutup buis beton yang biasa digunakan untuk gorong-gorong. “Supaya gas tidak bocor sekaligus melindungi kran dan pipa distribusi”, ujar Amin Sugianto, yang terlibat langsung saat pembangunan instalasi biogas. Digester berisi batu granit yang tersusun vertikal ditopang dinding penyekat berbahan beton cor berongga untuk pemasukan air. Batu granit berfungsi sebagai penyerap gas hidrogen sulfida penyebab bau sekaligus penjernih air sebelum dialirkan keluar. Menurut Satriyo Krido Wahono, ST., peneliti biogas di Balai Pengembangan Proses dan Teknologi Kimia LIPI, Playen, Gunungkidul, Yogyakarta, kelebihan batu granit adalah memiliki porositas yang tinggi sehingga dapat menyerap kotoran di air limbah. Pemanasan global Selain itu menurut Satriyo granit kemungkinan juga berfungsi untuk menambah atau mempercepat aerasi, walaupun sebenarnya fermentasi anaerobik di dalam digester sudah memiliki kemampuan untuk menaikkan Biochemical Oxygen Demand (BOD) dan menurunkan Chemical Oxygen Demand (COD) sehingga tidak berbahaya lagi bagi lingkungan. Sebelum air limbah tahu mengalir keluar filter anaerobik, air mengendap sehingga komponen padat terpisah, lalu tersaring baffled reflector. Kedua penyaring itu-filter anaerobik dan baffled reflector-berfungsi menangkap bakteri dan sisa bahan organik agar tidak terbawa keluar. Hasilnya, air yang mengalir keluar bersih sehingga bisa mengairi sawah dan ladang. Toh, keduanya bukan harga mati. Di desa itu ada 2 instalasi biogas, salah satunya tanpa bak pengendap, baffled reflector dan filter anaerobik. Hasilnya air buangan relatif bersih sehingga dapat langsung mengairi lahan pertanian. Untuk menggunakan biogas, calon konsumen cukup memasang pipa untuk mengalirkan gas ke kompor. Hingga sekarang ada 50 kepala keluarga yang menggunakan biogas limbah tahu di Desa Bendung. Setiap kepala keluarga pengguna biogas limbah tahu membayar iuran Rp. 500 per hari alias Rp.15.000 per bulan sebagai biaya perawatan. Menurut Sumarni, angka itu hanya seperempat biaya bahan bakar bulanan masyarakat yang biasanya menggunakan minyak tanah, kayu bakar, atau LPG. Selain murah, biogaspun lebih aman. Menurut Yaya Sudrajat, tekanan biogas hanya 0,2 atm-jauh lebih rendah ketimbang tekanan elpiji yang mencapai 5 atm. Risiko meledak pun amat kecil. Selain itu, gas metana itu sumber pemanasan global. Mengolah gas menjadi bahan bakar tentu menyumbang proporsi cukup banyak dalam mengurangi pencemaran udara. (Susirani Kusumaputri) Selengkapnya...
Jumat, 11 Mei 2012
“PKS Mendingan Bubar Aja Deh…”
Bismillahirrahmanirrahim… Kita berbicara tentang sebuah partai politik di Indonesia kali ini, bukan Partai Demokrat sang pemenang pemilu 2009 atau pun Golkar pemenang pemilu 2004 atau PDIP pemenang pemilu tahun 1999, partai ini belum pernah menjadi pemenang pemilu, prestasi terbaiknya “hanya” menduduki peringkat ke-4 di Pemilu 2009 dan belum berhasil mencapai target suara yang telah dicanangkan, yaitu 20 juta suara di Pemilu 2009. Partai itu adalah Partai Keadilan Sejahtera atau PKS. Partai yang didirikan di Jakarta pada hari Sabtu, tanggal 9 Jumadil ‘Ula 1423 bertepatan dengan 20 April 2002. PKS adalah kelanjutan dari Partai Keadilan yang didirikan pada hari Senin, tanggal 26 Rabi’ul Awwal 1419 bertepatan dengan 20 Juli 1998. Partai yang sudah melahirkan banyak tokoh dalam blantika politik Indonesia, seperti Nurmahmudi Ismail (mantan menteri Kehutanan dan sekarang Walikota Depok), Hidayat Nur Wahid (mantan ketua MPR) Tifatul Sembiring (Menkominfo), Gatot Pudjo Nugroho (Plt. Gubernur Sumatera Utara), Ahmad Heryawan (Gubernur Jawa Barat), Irwan Prayitno (Gubernur Sumatera Barat), Sa’aduddin (Bupati Bekasi) dan tokoh lainnya. Partai ini pun banyak menghasilkan politisi muda yang cerdas, seperti Anis Matta, Fahri Hamzah, Andi Rahmat, Mahfudz Sidiq, Nasir Djamil, Mustafa Kamal dan politisi muda lainnya. Barisan wanitanya pun tak kalah hebat terlahir dari Partai ini, seperti Yoyoh Yusroh, Nursanita Naustion, Ledya Hanifa serta lainnya. Bukan di bidang politik saja, Partai ini pun banyak menelurkan para sastrawan hebat seperti Helvy Tiana Rosa, Asma Nadia, M. Yulius dan lain-lain. Tapi bukan kehebatannya yang akan kita bicarakan saat ini. Ini masalah nasib PKS saat ini yang terasa “memprihatinkan”. Lihat saja beberapa bulan lalu mereka dikejutkan dengan manuver dari mantan pendiri mereka, sang Presiden PKS dikatakan sebagai mantan mujahidin Afghanistan yang membuat para pemilih PKS yang tidak terlalu “ekstrem” dalam masalah jihad memikirkan ulang untuk memilih PKS karena takutnya PKS punya “hidden agenda” untuk Indonesia. Lalu sang Presiden dilaporkan ke BK DPR-RI karena menerima uang dari Jusuf Kalla yang sudah dibantah sendiri oleh JK. Sang pelapor tidak membawa bukti apa-apa, selain “katanya”. Sekjennya pun dilaporkan ke KPK terkait dugaan penggelapan dana yang sudah di-clearkan juga karena jumlahnya berbeda dengan yang diaudit KPUD DKI kala itu. Belum lagi masalah 3 petingginya yang poligami, lalu laporan ke polisi tentang presidennya dan polisi menolak laporan tersebut. Semua ini jelas terlihat bahwa memang PKS saat ini sedang memprihatinkan. Lihat saja, mana ada liputan tentang pekerjaan para kadernya di tingkat grassroot, adakah liputan tentang Forsitma (Forum Silaturahmi Majelis Ta’lim) atau liputan bahwa kader-kader partainya selalu mengadakan bakti sosial di tiap 2 bulan?? Tidak ada, yang ada paling hanya cibiran bahwa mendekati majelis ta’lim karena ingin suara, “mengadakan baksos kok pake cerita-cerita, itu riya namanya”. Apalagi yang dibutuhkan masyarakat sekarang bukan ikan tapi pancing, baksos cuma buat masyarakat jadi manja tidak mau bekerja, semua ini PKS-lah penyebabnya!!! Ketika RATUSAN RIBU kadernya turun ke jalan untuk menyuarakan keadilan untuk sesama di belahan bumi lainnya, media pun melakukan korupsi berita, paling hanya ditulis ratusan atau ribuan, dan komentar yang akan muncul hanya “PKS selalu membuat sulit warga Jakarta dengan demonya, buat macet aja!!!” semua ini PKS-lah penyebabnya!!! Tak pernah ada juga liputan tentang kader-kadernya yang berjasa, mereka lupa perda larangan merokok lahir dari para anggota DPRD dari PKS, kenaikan gaji PNS dan Tunjangan Kinerja Daerah untuk PNS DKI pun lahir dari tangan-tangan mereka, yang ada hanya “larangan merokok melanggar hak manusia dan menaikkan tunjangan PNS hanya membuat sembako tambah melambung” semua ini PKS-lah penyebabnya!! Bukan hanya dari kalangan external, dari kalangan umat Islam pun PKS seperti “pesakitan” mereka dianggap berdakwah dengan cara yang haram, demokrasi itu haram!!! Karena mayoritas ulama mengatakan itu (yang ketika ditanyakan siapa saja ulamanya, tidak pernah dijawab) padahal ini hanya masalah khilafiyah saja. PKS juga dianggap telah keluar dari ciri khas dakwah mereka, semuanya sekarang berjas dan naik mobil mewah, “biasanya tuh PKS jalan kaki, masak sekarang naik mobil, gak militan!!” Sudah keluar dari khithahnya, karena para petinggi nya sudah hubbuddunya (cinta dunia) maka para umat Islam hari ini pun semakin banyak yang mengejar dunia, semakin banyak membuat usaha biar dapat penghasilan yang banyak… semua ini PKS-lah penyebabnya!!! Mereka pun sekarang serba salah, seperti cerita tentang poligami misalnya, ketika ada yang mengatakan bahwa poligami beberapa petinggi PKS bermasalah, maka semua mencaci…”astaghfirullah ustadz kok begitu, pada zina semua” tapi ketika ditegaskan tidak ada yang bermasalah, karena PKS tidak melarang poligami, semua mencaci juga ,“ustadz gatel, doyannya kawin doang” Ketika berita keburukan mereka ada di suatu media, lihatlah link-link lainnya tentang berita itu, banyak sekali, jika kita buka satu persatu, inti pemberitaannya sama, cuma judulnya saja. Media sedang menggiring pembaca mau baca berita yang mana saja, media sedang menghidangkan para pembaca judul yang berbeda, terserah mau baca yang mana intinya PKS buruk citranya. Kalian pasti pernah dengan berita bahwa anggota dewan PKS tertanggap main judi kan?? Pasti, karena berita itu dimuat di semua media. Tapi tahukah kalian bahwa anggota dewannya sudah dipecat?? Tahukah Anda bahwa anggota dewan tersebut berasal dari eksternal PKS? Yang dirangkul untuk memastikan bawah PKS memang partai terbuka?? Hhmm sepertinya itu bukan berita yang bagus buat media, kecuali beberapa saja. Karena “bad news tentang PKS” adalah “good news” untuk media. Sekarang posisi mereka serba salah, ketika era tanzhimi dulu, kader PKS dikatakan eksklusif, tidak membaur dan ini tidak akan memuluskan dakwahnya, karena Islam itu rahmatan lil alamin, tidak tersekat, semua harus bisa menerima manfaat dari Islam, karena Islam bukan hanya untuk kader saja tapi untuk seluruh lapisan masyarakat. Tapi ketika PKS memproklamasikan bahwa mereka adalah partai terbuka, siapa saja boleh jadi anggotanya (bukan hanya kader) mereka pun dicaci, menghalalkan segala cara untuk dapat suara, berteman dengan kafir bahkan ada yang mengatakan semuanya akan masuk neraka (kayak neraka punya dia aja). PKS, oh PKS, kasihan sekali nasib kalian, apapun yang kalian lakukan akan ada penentangnya, mending mundur sajalah, bubarkan partainya, kan enak tidak perlu mendengar cibiran banyak orang? Jangan nekad deh PKS. Ada bom buku di Utan Kayu aja, kalian kena getahnya. Jangan-jangan ketika misalkan kader kalian menjadi presiden suatu saat nanti, akan ada kudeta berdarah dari masyarakat, karena kalian tidak pernah disuka. Tapi, ya kalau kalian tetap nekad, tetap kuat dengan cibiran semua pihak, tetap kokoh strukturnya, tetap membaca Qur’an walau buat acara di hotel, tetap membina ribuan halaqah yang di dalamnya membicarakan kebaikan, tetap banyak mendirikan sekolah islam terpadu dan pesantren-pesantren tahfizh, tetap kuat bekerja di grassroots, membina majelis ta’lim, membina pengajian kantoran, pengajian karang taruna, membina banyak majelis ta’lim membina rohis-rohis sekolah dan LDK kampus, ya sudah, saya tidak bisa banyak berkata, kau teruskan saja apa yang selama ini sudah kau lakukan, wahai PKS. Dan izinkan aku ada di dalam barisan kalian, seraya meneriakkan takbir dan berkata “bekerja untuk Indonesia adalah ibadah”. Selengkapnya...